Sabtu, 16 Agustus 2014

Agus Salim, Pemimpin yang Nyaman Melarat

H Agus Salim - (Foto: ilustrasi)

Pahamilah.com - Pemimpin besar adalah mereka yang mampu memukau bahkan musuhnya sendiri. H Agus Salim tentu saja salah satu dari para pemimpin besar yang ikut menanamkan fondasi bagi rumah besar bernama Indonesia ini.

Keparipurnaan jiwa Agus Salim mengesankan lawannya, Ketua Delegasi Belanda dalam Perundingan Linggarjati, Prof Willem Schermerhorn. Schermerhon terpukau tak hanya pada ketegasan sikap Agus Salim dalam perdebatan-perdebatan diplomasi Indonesia-Belanda, melainkan juga akan kesederhaan hidupnya.

“Dia pemimpin, salah seorang pendiri negara. Selama hidupnya selalu melarat dan miskin,” kata Schermerhorn. Tapi sang professor tahu, melarat dan miskin, bukanlah padanan kata ‘menderita’.

Kemiskinan Agus Salim adalah kemiskinan yang dijalani dengan sadar dan bangga. Secara tersirat, ada penempatan tanggung jawab yang sangat tinggi di sana.

Leiden is lijden. Memimpin itu menderita,” kata Kasman Singodimedjo, mengulang pepatah kuno Belanda yang sering diucapkan Agus Salim. Sahabat dan adik mentor Agus Salim, mengabadikan kalimat itu dalam buku yang ditulisnya untuk sang mentor, ’Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita’.

Sebagai pejabat tinggi negara, Agus Salim pernah tinggal di sebuah rumah kontrakan di Gang Lontar Satu; sebuah gang kecil yang sulit diakses di kepadatan permukiman Jakarta. Sebelum menemukan pintu rumahnya, Agus Salim harus lebih dulu masuk ke Gang Kernolong, lalu mlubus ke sebuah gang sempit, sebelum menemukan gang sempit lain yang menjadi lokasi rumahnya. Sebuah buku bahkan pernah menulis, lubang peturasan di rumah itu selalu meluap manakala banjir tahunan datang.

Leiden is lijden. Sebuah pepatah yang mungkin membuat meriang para pemimpin saat ini. Wajar bila mereka menjauhi kata keduanya. (inilah/pahamilah)