Kamis, 21 Agustus 2014

Jeffrey Goldberg: Kemerdekaan Palestina bukan Isapan Jempol

Bocah Palestina

Pahamilah.com - Siapa yang tidak kenal Jeffrey Goldberg. Jurnalis gaek keturunan Yahudi ini memang bukan sosok sembarangan. Selain sudah makan asam garam di dunia kewartanan, veteran Angkatan Bersenjata Israel yang ikut berbagai perang itu adalah salah satu tangki pemikir elit rezim Zionis Israel hingga hari ini. Berbagai tulisannya dipandang mencerminkan suara autentik “negara” Yahudi di media massa AS.

Dalam liputan utama sepanjang 12 halaman di majalah The Atlantic enam tahun silam, Jeffrey Goldberg menyoroti kemungkinan bertahannya Israel di kawasan Timur Tengah. Dalam artikel panjang itu, Godlberg memulai tulisannya dengan rangkaian pertanyaan: “Bagaimana Israel bisa bertahan hidup 60 tahun lagi di belahan dunia yang sudah membesarkan kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas? Bagaimana Israel bisa berkembang bila angkatan bersenjatanya tak bisa mengalahkan gerombolan kecil para peluncur roket (Hizbullah)? Bukankah penumpukan begitu banyak orang Yahudi di tempat yang demikian sempit—hingga dapat menimbulkan klaustrofobia—di kawasan dunia paling bergejolak itu justru melemahkan daya tahan masyarakat Yahudi?”

Godlberg tampaknya berusaha menjawab berbagai kegalauan eksistensial rezim zionis Israel, sembari menimbang ancaman internal yang—menurutnya—terus berusaha menggagalkan solusi dua negara. “Saya khawatir. Kalian bisa mencoba bertahan dari ancaman luar sebaik mungkin, tapi kalian juga harus waspada dengan ancaman dari dalam,” tulis Goldberg. “Saya benar-benar khawatir terhadap masa 10 sampai 15 tahun Israel di depan. Saya khawatir dengan delegitimasi, dan delegitimasi adalah proses yang (masyarakat) Israel sendiri bisa ikut serta melakukannya,” imbuhnya.

Goldberg melanjutkan, “Kalangan Yahudi Amerika khususnya harus menyadari bahwa segala sesuatunya sangat rapuh.” Lantas, Goldberg menekankan bahwa mengajukan pertanyaan terbesar (yaitu yang menyangkut masa depan eksistensi Israel) adalah baik, meski tak pernah memberi jawaban yang jelas.

Apa yang disampaikan Goldberg 6 tahun silam itu, tepatnya Mei 2008, tampaknya terus menghantui elit politik dan militer zionis. Bagaimana tidak? Negara yang berdiri di atas tanah milik bangsa lain itu kini sedang berada di pusaran torpedo yang dahsyat. Dua tiga negara yang tampak begitu kuat dan berakar dalam ribuan tahun lamanya, seperti Mesir, Irak dan Suriah, bisa mendadak oleng, apatah lagi negara buatan yang ditanam oleh rezim penjajah yang datang nun jauh dari berbagai belahan dunia.

Ketakutan dan kegelisahan zionis ini dapat kita lihat setiap hari dari serangkaian analisis dan komentar media massa mereka sendiri. Hampir setiap hari barang satu dua pemikir Yahudi yang mulai mempertanyakan makna dan maslahat kehadiran negara khusus kaum Yahudi di tengah-tengah lingkungan yang sama sekali menolaknya. Kian hari kian jelas bahwa negara Yahudi bernama Israel ibarat minyak di tengah puluhan juta liter danau yang tak mampu bercampur dengannya.

Kegelisahan eksistensial itu makin kuat seiring kegagalan Israel menginvasi Jalur Gaza sejak 2008-09 silam. PM Benjamin Netanyahu dan sebagian besar elit Israel tahu persis bahwa mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi faksi-faksi perlawanan Palestina, terutama yang berada di Gaza. Israel tak lagi punya pasukan yang bisa seenaknya diminta menginvasi Gaza—apalagi Lebanon Selatan. Masa-masa itu telah berlalu tanpa mungkin kembali lagi. Rezim zionis ini sadar sepenuhnya bahwa tidak ada solusi baginya saat ini kecuali lewat negosiasi dengan pihak Palestina.

Ketakmampuan militernya melancarkan invasi darat ke Jalur Gaza merupakan bukti kegagalan, kelemahan, kegamangan dan inkompetensi militer yang serius. Kerusakan dan kehancuran infrastruktur serta pembantaian ribuan warga Gaza tidak dapat menutupi kegagalan militer dalam arti strategisnya. Padahal, Israel adalah negara yang telah dan tetap wajib berdiri di atas supremasi militer.

Hasan Hijazi, pengamat Israel asal Lebanon, menyimpulkan bahwa para pengamat dan analis Israel hampir semuanya sepakat bahwa aksi militer Israel di Gaza tidak mampu mengubah situasi nyata di medan laga, terutama akibat kegagalan serangan udara dan ketakmampuan melancarkan serangan darat. Dia menambahkan bahwa para analis zionis yakin bahwa solusi bagi kegagalan militer tersebut hanyalah negosiasi dengan pihak Palestina. Dan itu artinya tak ada kemenangan militer bagi Israel—sesuatu yang sangat berbahaya bagi kelangsungan eksistensi negara palsu yang berdiri di atas doktrin supremasi militer ini.

Hijazi menyatakan bahwa popularitas kubu Menlu Avigdor Lieberman yang menolak kompromi dan negosiasi dengan “teroris Gaza” belakangan terus merosot tajam. Netanyahu yang semula dianggap tergolong kubu garis keras juga berangsur melunak. Ada banyak kekhawatiran yang tumbuh di lingkaran dalam kekuasaan saat ini. Selain kegagalan militer Israel meriah kemenangan yang telak dan desisif, kemenangan militer Suriah memukul mundur gerombolan pemberontak teroris dari berbagai wilayahnya juga menambah kecemasan yang serius.

Sebagian besar analis Israel saat ini condong pada pendapat bahwa Israel tidak lagi memiliki supremasi militer atas lawan-lawannya, dan karenanya harus sadar bahwa jalur diplomasi, pembicaraan dan negosiasi adalah satu-satunya yang tersedia. Serangan militer merawak rambang ke Jalur Gaza sejak Juli silam kembali mengingatkan banyak elit zionis pada prediksi Jeffrey Goldberg 6 tahun lalu. Bahwa ide Israel bakal lenyap atau setidaknya luruh dari peta kawasan dan berganti menjadi sebuah negara asli bernama Palestina dengan segala konsekuensi suka-duka berbagi tanah dengan penduduk yang ada di sana bukan lagi suatu kemustahilan.

Kemerdekaan Palestina seutuhnya, yang membentang dari Laut Tengah hingga Sungai Yordania, tak lagi dapat dianggap sebagai isapan jempol belaka. Cita-cita itu kini telah menjadi harapan yang di depan mata. (islamtimes/pahamilah)