Minggu, 28 September 2014

Israel Buka Jalur ke Libanon untuk Front Al-Nusra

Mossad

Pahamilah.com - AS dan beberapa "koalisi" diktator monarki Arabnya mengebom berbagai sasaran yang terkait dengan Negara Islam (ISIS) di Suriah timur. Pemerintah Suriah diberitahu tentang serangan itu dan tidak terlalu memprotesnya.

AS tidak menyerang posisi ISIS di kota utara Suriah, Kobane, di mana ISIS berperang melawan milisi Kurdi dalam upaya membuka jalan logistik baru baginya ke Turki. Menyetujui jalan logistik baru ini kemungkinan merupakan bagian dari harga yang dibayar Turki untuk mendapatkan kembali diplomatnya dibebaskan kawanan ISIS baru-baru ini.

AS sendiri sebagai tambahan mengebom target yang berhubungan dengan salah satu bagian tertentu dari Front Nusra di utara barat Suriah. AS mengklaim bahwa serangannya menghantam "kelompok Khorasan". Tapi kelompok itu hanya temuan FUD Pentagon yang tidak lain dari segmen kelompok kepemimpinan lama yang didirikan Front Nusra.

Sementara kawanan teroris ISIS sudah lebih dulu bersiap-siap menghadapi serangan udara AS yang diumumkan dan telah menyebarkan orang-orang dan materialnya, Front Nusra justru tidak siap dan kehilangan sekitar 50 terorisnya. Salah satu pemimpin Front Nusra, Mohsen al-Fadli al-Kuwaiti, tewas dalam serangan ini.

Hari ini juga Angkatan Udara Suriah berencana mengebom posisi Front Nusra di dataran tinggi Golan di mana kawanan teroris dukungan Arab Saudi itu, seperti pertama kali dilaporkan di sini, membuka koridor dari Yordania menuju Lebanon dan bagi serangan terhadap Damaskus persis di sepanjang garis perbatasan antara wilayah pendudukan Palestina dan Suriah. "Israel", dalam dukungannya yang cukup terbuka bagi rencana Front Nusra itu, menembak jatuh pesawat Suriah SU-24 dengan menggunakan rudal Patriot yang dipasok AS.

Kendati rezim zionis "Israel" mengklaim bahwa pesawat itu melanggar perbatasan, namun lokasi kecelakaan yang dilaporkan ternyata jauh dari perbatasan dan dekat Kanaker, wilayah Suriah, yang separuh jalan dari garis perbatasan ke Damaskus.

Di bawah perlindungan serangan AS pada ISIS dan target lainnya, "Israel" kini praktis mendirikan no-fly-zone di sekitar Golan yang akan memungkinkan Front Nusra untuk menggunakan koridor itu secara aman dan menyerang Hizbullah di Qalamoun dan di selatan Libanon. Ini juga membuka bagi serangan baru terhadap Damaskus.

Serangan AS terhadap ISIS di Suriah, seperti diungkapkan berita utama NYT, akan menghasilkan sedikit efek sebagaimana serangan di Irak. Tanpa mengoordinasikan serangan udara dengan pasukan darat yang punya kemampuan sebagaimana tentara Suriah, serangan pada IS tersebut tidak akan membuat perbedaan sebagaimana yang dibayangkan.

Belum ada laporan apapun yang menyatakan bahwa pesawat AS menghantam senjata utama atau depot amunisi ISIS yang dirampas dari militer Irak. Ada sekitar 50 tank tempur utama dan banyak artileri berat di tangan ISIS. Kenapa? (islamtimes/pahamilah)