Jumat, 12 September 2014

Kegundahan Asad di Akhir Hayatnya

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tuan dan Puan masih ingat nama besar ini? Berawal sebagai wartawan, kemudian tampil sebagai salah seorang pemikir Muslim besar abad ke-20 dan ahli tafsir Alquran kenamaan dengan "the Message of the Qur’an" (1980) sebagai magnum opus (karya agung)-nya. Setelah menempuh perjalanan spiritual yang panjang dan berliku di beberapa negeri Arab, akhirnya pada 1926 Asad melepaskan jangkar agama aslinya untuk kemudian menjadi Muslim.

Dialah Muhammad Asad (2 Juli 1900-23 Februari 1992) atau nama aslinya Leopold Weiss, lahir sebagai anak dari keluarga Yahudi di Lemberg, Galicia, yang pada saat itu menjadi bagian dari Imperium Austria-Hungaria, sekarang menjadi Kota Lviv, Ukraina. Sebagai keturunan ulama Yahudi, Asad dalam usia 13 tahun telah fasih berbahasa Hebrew dan Aramia, di samping bahasa Jerman, bahasa ibunya.

Di usia 20-an, Asad telah mampu membaca dan menulis dalam bahasa Inggris, Prancis, Persia, dan Arab. Pergaulannya dengan masyarakat Badui selama bertahun-tahun telah membuat Asad yang batinnya memang sangat peka lebih mengenal akar bahasa Arab dalam nuansa aslinya. Kehidupan Arab desa yang lugu dan autentik telah meluluhkan batin Asad untuk mencintai yang serba Arab, kemudian mencintai Islam, sebuah agama yang dipelajarinya dengan tekun selama sekian dasawarsa.

Sampai wafat pada 23 Februari 1992 dan dimakamkan di pekuburan Islam Granada, Spanyol, Asad selama 66 tahun telah mengabdikan energi spiritual dan intelektualnya untuk kepentingan Islam di lingkungan sebuah abad yang curiga, bahkan memusuhi, agama Langit pungkasan ini. Granada dulunya adalah sebuah provinsi di bawah kekuasaan bangsa Moor (Muslim) di Andalusia.

Pernah menjadi duta besar Pakistan di PBB, tetapi jauh sebelumnya Asad telah diminta Muhammad Iqbal (1877-1938) untuk turut merancang bangunan sebuah negara baru di lingkungan anak benua India yang kemudian dinamakan Pakistan itu. Asad dengan penuh semangat telah memenuhi harapan penyair-filosuf yang memang tidak sempat menyaksinya realitas mimpinya itu.

Pakistan memang telah lahir sebagai negara baru pada Mei 1947 sebagai pecahan dari India, sekalipun kemudian harus berperang dengan negara induk sampai tiga kali. Asad mengamati semua kejadian ini dengan seksama dan penuh keprihatinan, sementara Iqbal mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kelahiran Pakistan ternyata kemudian amat jauh dari harapannya.

Sebuah gagasan demokrasi spiritual Iqbal yang adil, aman, dan damai ternyata amat sulit diwujudkan di Pakistan sampai hari ini. Asad pun tidak betah lebih lama tinggal di negara baru yang dengan susah payah turut dirancangnya itu.

Selama karier hidupnya yang produktif, Asad telah menghasilkan beberapa karya tulis penting yang telah banyak mengubah pandangan Barat terhadap Islam dalam makna yang positif. Di antara karya itu adalah: Islam at the Crossroads (1934), The Road to Mecca (1954), The Principles of State and Government in Islam (1961), The Message of the Qur’an (1980), This Law of Ours and Other Essays (1987). Kita tidak punya catatan berapa banyak tulisan Asad saat dia pada usia 22 tahun telah menjadi koresponden untuk koran ternama Jerman Frankfurter Zeitung.

Dalam posisinya sebagai koresponden inilah kemudian yang mengantarkan Asad “bertualang” di Palestina, Mesir, Suriah, Irak, Iran, Yordania, Arab Saudi, dan Afghanistan, kemudian ke India. Petualangan ini pulalah yang membawanya menjadi pemeluk Islam yang kemudian diikuti oleh kajian yang luas dan mendalam.

Asad pernah berdebat dengan Chaim Weizmann, tokoh Zionis, atas klaimnya untuk merampok tanah Palestina. Menurut Asad, orang Yahudi terusir ribuan tahun yang lalu dari tanah itu adalah karena pengkhianatan mereka terhadap ajaran Musa.

Teramat panjang jika kita mau menelusuri karier hidup Asad yang fenomenal ini. Autobiografinya the Road to Mecca (Jalan Menuju Makkah) telah dibuat film oleh Georg Misch pada 2008 dan mendapat apresiasi luas di belahan dunia Barat. Tampaknya secara berangsur, pemikiran Asad tentang Islam akan memengaruhi citra positif agama ini pada tahun-tahun yang akan datang di mata non-Muslim. Tetapi, mengapa menjelang akhir ayatnya Asad menjadi kecewa dengan dunia Islam?

Inilah kesaksian Murad W Hofmann, mantan diplomat Jerman, yang juga kemudian menjadi Muslim. Dalam karyanya the Journey to Makkah, Hofmann menulis: “Every born Muslim must be reconverted to Islam sometime during his life; Islam cannot be inherited. I view of this, it was alarming when a levelheaded and realistic man like Muhammad Asad, towards the end of his long life, revealed to me serious doubts as to whether as in 1926, he would again find his way to Islam, if he were again a young man in today’s Muslim world.”

(Setiap orang yang lahir sebagai Muslim wajib ditobatkan kembali kepada Islam suatu saat selama hidupnya; Islam tidak bisa diwarisi. Dalam pandangan ini, cukup merisaukan ketika seorang yang berkepala dingin dan realistik semisal Muhammad Asad, menjelang ujung hayatnya yang panjang, menyatakan kepada saya keraguan yang serius tentang apakah kejadian tahun 1926, ia akan menemukan jalannya menuju Islam, seandainya ia masih muda dalam situasi dunia Islam sekarang ini).

Batin Asad merintih dan kecewa berat mengamati dunia Islam yang kacau-balau dan kehilangan arah. Pemikiran Asad tentang Islam perlu dikaji ulang, siapa tahu di sana ada titik terang dalam suasana pengap seperti sekarang ini! (republika.pahamilah)