Selasa, 15 Maret 2016

Hanya Munafiq Yang Mengangkat kafir Jadi Pemimpinnya


HANYA MUNAFIQ YANG MENGANGKAT KAFIR JADI PEMIMPINNYA
(Kajian tafsir an-Nisa:144-147)
A. Teks Ayat dan Tarjamahnya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا * إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا* إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا * مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui…. (Qs.4:144-147)

B. Kaitan Ayat
1. Ayat sebelumnya mengungkap kebusukan orang munafiq, baik hati, ucap maupun budiperangainya. Ayat 144 melarang kaum muslimin untuk mengangkat kafir sebagai pemimpinnya. Keterkaitan antara keduanya mengisyaratkan bahwa orang munafiq itu sebenarnya termasuk kaum kafirin yang tidak pantas dijadikan pemimpin.

2. Ayat 142-143 mengungkap keburukan sifat munafiq sebagai penipu, pemalas ibadah, pengecut, dan pendiriannya tidak ajeg. Ayat 145 mengungkapkan nasib orang munafiq di akhirat yang bakal dijerumuskan ke neraka paling menghinakan serta tidak akan mendapat pertolongan.

3. Ayat 145 menegaskan tentang nasib munafiq yang bakal tersiksa di akhirat dan terhina. Ayat 146 mengecualikan yang bertaubat. Dengan demikian orang munafiq juga diberi kesempatan untuk bertaubat. Jika mereka bertaubat dan memperbaiki diri, maka akan selamat dari siksa neraka.

C. Tinjauan Historis
Menurut Ibn Adil, secara historis ayat ini berkaitan dengan orang Anshar yang masih tetap bersahabat erat degan kaum yahudi bani quraidlah. Yahudi bani quraidlah itu banyak yang menjadi munafiq. Ayat ini melarang mu`min mengangkat munafiq jadi pemimpinnya atau shahabat dekat. Di antara mereka ada yang bertanya kepada Rasul SAW tentang siapa yang pantas diangkat jadi pemimpin atau shahabat dekat kaum Anshar, maka Rasul menjawab “al-Muhajirin”.[1]

D. Tafsir Kalimat
1). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ   

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. 

Perkataan أَوْلِيَاءَ merupakan bentuk jama dari ولِي mencakup wali wilayah atau wali walayah. Pangkal ayat ini menyeru agar mu`min jangan sampai mengangkat orang kafir menjadi wali dan meninggalkan sesama mu`min. Larangan dalam ayat ini mencakup wali wilayah yaitu pemimpin struktural seperti kepala Negara atau kepala daerah atau pun wali walayah pemimpin non struktural seperti dalam berorganisasi kemasyarakatan. Dalam ayat lain tegaskan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang yang beriman janganlah kamu mengangkat yahudi dan nasrani sebagai pemimpin. Mereka satu sama lain saling memimpin. Barang siapa di antaramu mengangkat mereka jadi pemimpin, maka sesungguhnya menjadi bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang yang zhalim. Qs.5:51

Ayat melarang keras orang mu`min mengangkat yahudi atau nashrani jadi pemimpinnya. Biarkanlah mereka saling memimpin satu sama lain. Jangan dibiarkan orang kafir memimpin mu`min. Konsekwensi memilih pemimpin dari kalangan kafir berdasar ayat ini antara lain (1) dikelompokkan pada orang kafir, (2) jauh dari petunjuk Allah, dan (3) divonis sebagai orang yang zhalim. Zhalim adalah menempatkan sesuatu tidak sesuai proporsinya. Orang mu`min seharusnya jadi pemimpin, bukan dipimpin orang lain, namun menurut al-Maraghi yang dimaksud أَوْلِيَاءَ pada ayat ini utamanya adalah penolong atau pelindung. Tegasnya orang mu`min tidak boleh minta pertolongan atau perlindungan dari kalangan orang kafir ataupun munafiq.

Perkataan مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ merupakan penjelasan larangan pengangkatan kafir jadi pemimpin, penolong, atau pelindung. Jadi yang dilarang keras itu mengangkat kafir jadi wali dengan mengabaikan orang mu`min. tegasnya bila seorang mu`min mengangkat petugas atau karyawan dari kafir zhimmi (menjadi bawahannya) maka tidak termasuk yang dilarang oleh ayat ini.

2). أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا  
Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

Dengan nada bertanya ayat ini, apakah dengan mengangkat orang kafir jadi pemimpin ingin memudahkan lasan bagi Allah untuk mendatangkan siksa. Berarti orang yang mengkakat kafir jadi pemimpinnya sama dengan manantang siksaan Allah SWT. Perkataan سُلْطَانًا مُبِينًا pada ayat ini mengandung arti alasan yang nyata atau yang nampak. Apakah orang mu`min pantas menantang siksaan Allah dengan mengangkat orang kafir jadi pemimpinnya? Bila mereka mengangkatnya utamanya beralasan mencari kekuatan, maka berarti muncul alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksanya.

3). إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا  
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Dikaitkan dengan ayat sebelumnya, ayat ini mengandung iyarat hukum bahwa orang yang mengangkat kafir jadi pempinnya termasuk golongan munafiq. Hanya orang munafiq yang mencari alasan mengangkat kafir jadi pemimpinnya. Orang mu`min tidak akan mengangkat pemimpin selain dari mu`min sendiri. Sedangkan derajat munafiq akan ditempatkan di tingkan paling rendah. Perkataan الدَّرْكِ atau الدَّرَك mengandung arti tingkatan rendah merupakan lawan kata dari الدَّرجَة derajat. Jadi orang munafiq berada pada derajat terendah di neraka sebagai makhluk terhina. Ayat ini mengisyaratkan bahwa neraka itu terdiri berbagai tingkatan, yang ditempati oleh penghuninya sesuai dengan tingkatan kesalahan yang mereka lakukan di dunia.

Orang munafiq menempati tingkat terendah di neraka yang siksaanya sudah barang tentu yang terberat. Orang munafiq sepantasnya ditempatkan di neraka paling berat siksaannya, karena selama di dunia mereka sudah melakukan kejahatan yang nyata mencampur adukan antara yang benar dan yang salah. Mereka juga sudah melakukan penipuan baik pada Rasul maupun pada orang mu`min. Betapa banyak kerugian yang dialami orang mu`min akibat ulah orang-orang munafiq.

Apabila orang kafir biasanya jelas dan terang-terangan menampakkan kekufuran, sehingga dapat dipantau oleh orang mu`min. Sedangkan munafiq menyembunyikan kekufuran, sehingga sulit dideteksi kekufurannya, yang mengakibatkan jebakan-jebakan. Tidak sedikit persahabatan orang mu`min menjadi pecah akibat ulah munafiqin. Ayat ini juga merupakan bimbingan bagi orang mu`min agar tidak terjebak oleh munafiqin. Kemudian ayat ini dikunci dengan kalimat وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا yang berarti orang yang telah terjerumus pada neraka yang paling rendah seperti munafiq, maka tidak akan mendaptkan pertolongan, atau pembebasan dari siksaan.

4). إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ  
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman 

Namun demikian siksaan yang berat yang diancamkan itu, tidak berlaku bagi orang yang sudah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Orang yang sudah terlanjur berbuat salah asalkan segera  bertaubat, dengan benar dan memenuhi syarat, akan ditempatkan bersama orang mu`min.

Syarat taubat yang diterima Allah berdasar ayat ini adalah: (1) تَابُوا kembali ke jalan yang benar disertai penyesalan atas perbuatan yang dilakukan, (2) وَأَصْلَحُواyaitu ishlah yang mengandung arti memperbaiki diri dan beramal shalih.

Kesalihan mengandung arti perbaikan diri dari perbuatan yang buruk serta melakukan berbagai amal yang mendatangkan kemaslahatan bagi sesama makhluq. (3) وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ berpegang teguh pada tali Allah. Mengikatkan dirinya atau komitmen menjalankan ajaran Allah SWT yang tersirat serta tersurat dalam al-qur`an dan sunnah Nabi SAW. Kalau ishlah lebih cenderung pada kemaslahatan soaial, maka i’tisham lebih ditekankan pada kemaslahatan ritual.

Syarat taubat yang benar mesti seimbang antar kemaslahatan ritual hubungannya dengan Allah dan kemasalahatan sosial yang hubungannya sesama manusia. (4) وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِmengikhlashkan keagamaannya hanya untuk Allah.

 Taubat yang benar bukan karena dilatar belakangi oleh kepentingan manusia, tapi benar-benar mesti didasari yang murni karena Allah SWT. Orang yang bertaubat seperti itu, maka فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ akan ditempatkan bersama orang mu`min. Tegasnya yang taubat dari kemunafiqan akan dibebaskan dari ancaman, maka derajatnya pun tidak terhina lagi.

5). وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا 
dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Apabila sudah masuk pada kelompok mu`min maka pahalanya pun sama dengan orang mu`min lainnya. Allah akan menganugerahkan pahala sempurna bagi orang mu`min dengan kebahagiaan yang paripurna yaitu surga yang ni’matnya tiada terhingga. Rasul SAW dalam hadits Qudsi mengutip firman Allah SWT sebagai berikut: قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ allah SWT berfiman”Aku sediakan untuk hamba-hambaku yang shalih keni’matan yang tiada terhinga yang tidak pernah terbayang oleh mata melihat, belum pernah terdengan telinga sebe;umnya dan tidak pernah terbetik di hati manusia merasakannya, bacalah kalau anda mau { فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ } seorang pun tidak pernah tahu apa yang disembunyikanuntuk mereka yaitu bermacam-macam ni’mat yang menyedapkan mata memandang sebagai balasan atas apa yang mereka telah kerjakan (Qs.32:17).[2]

6). مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ  
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? 

Dengan nada bertanya ayat ini menolak anggapan bahwa Allah menyiksa hambanya karena kejam atau dendam. Allah SWT tidak akan menyiksa hamba yang mau bersyukur atas ni’amat yang telah Ia anugerahkan. Pada dasarnya Allah SWT telah menurahkan berbagai keni’matan, baik berupa inderawi, aqli, ataupun hati bahkan segala fasilitas kehidupan di dunia. Namun sayangnya manusia banyak yang tidak mau bersyukur dan tidak mau beriman.

Jika mereka itu beriman dan bersyukur atas ni’mat, maka akan bebas dari skisaan. Jadi jelas siksaan itu akan menimpa orang yang berbuat jahat. Orang yang tidak jahat tidak akan tertimpa siksaan. Manusia tidak dibebani tugas macam-macam selain untuk mensyukuri ni’mat yang telah diberikan, dan menjauhi pelanggaran. Allah SWT pada dasarnya memberikan ni’mat kapad siapapun, menyediakan surga bagi siapapun yang mau mengikuti aturan. Hanya orang yang melanggar aturan dan tidak mau berterima kasih yang bakal menerima siksaan.

7). وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا 
Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Sifat Allah itu selalu berterima kasih pada orang yang mau beramal, walau apa yang mereka kerjakan itu pada dasarnya bernilai sedikit di banding jasa yang dianugerahkan. Jadi mensyukuri ni’mat itu sebenarnya bukan balas jasa, karena tidak sebanding dengan yang telah Allah anugerahkan pada hamba-Nya. Syukur ni’mat diperintahkan Allah, hanya untuk menambahkan keni’matan yang telah diberikan.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Ingatlah tatkala Tuhan kalian mengumumkan jika kalioan bersyukur, maka AKU tambah keni’matan. Jika kalian kufur, maka ingat siksaanKu amat pedih. Qs.14:7

Jadi jelas fungsi syukur itu sebenarnya untuk meningkatkan keni’matan. Allah SWT tidak menuntut balas jasa, karena keni’matan yang dianugerahkan tidak akan terbalas. Allah menuntut hamba-Nya untuk bersyukur agar mereka meraih keni’amatan yang lebih banyak lagi. Namun jika mereka tidak mau bersyukur, maka pantas mendapatkan siksa akibat kejahatan mereka. Pada dasarnya Allah SWT adalah pemberi ni’mat. Tidak ada yang disiksa tanpa dosa dan kejahatan. Oleh karena itu kalau mau tetap mendapat ni’mat tetaplah taat. Kalau tidak mau tersiksa, jangan berbuat jahat.

E. Beberapa Ibrah
1). Orang mu`min dilarang mengangkat orang kafir jadi pempimpin, penolong atau walinya dengan mengabaikan sesama mu`min.

2). Orang yang mengangkat kafir jadi pemimpinnya, maka termasuk golongan munafiq, yang terjerumus pada derajat terendah.

3). Munafiq merupakan penjahat yang amat merugikan baik pada dirinya mapun orang lain. Oleh karena itu siksaannya pun setimpal dengan kejahatannya yang akan dimasukkan ke neraka paling menghinakan.

4). Dosa apa pun termasuk kemunafikan, bakal diampuni kalau ditaubati, asalkan taubatnya dilakukan secara benar dan tepat.

5). Taubat yang bakal menghapus dosa syaratnya antara lain (1) kembali ke jalan yang benar dengan penuh pnyesalan atas apa yang telah diperbuat, (2) memperbaiki diri dengan meningkatkan amal shalih, (3) kemitmen berpegang pada aturan Allah dan Rasul-Nya, (4) mengikhaskan diri pada Ilahi dalam keagamaannya,

6). Orang yang bertaubat secara benar, dosanya akan diampuni, amalnya mendatangkan pahala yang berlipat ganda keni’matan yang tiada terhingga.

7). Allah SWT tidak pernah menyiksa hamba-Nya kecuali yang berbuat dosa, karena Dia pengasih dan penyayang.

8). Allah SWT Maha bersyukur atas amal baik hamba-Nya. Iman dan syukur hamba bukan sebagai balas jasa pada Allah, karena keni’matan yang dianugerahkan pada mereka tidak sebanding dengan amal manusia. Fungsi syukur adalah untuk menambah keni’matan.

9). Bahagialah orang yang beriman dan bersyukur, karena bukan hanya tetap dalam ni’mat tapi juga meraih keni’matan yang terus bertambah, baik di dunia kini maupun di akhirat kelak.

Berikut Video guna melengkapi kajian diatas;
Buya Yahya | Haram Mengangkat Kafir Jadi Pemimpin
Haram Mengangkat Kafir Jadi Pemimpin
Buya Yahya | Jangan Memilih Pemimpin Dari Orang Yang Tidak Beriman, Sebuah ke-MUNAFIK-an jika ternyata begitu leganya (seorang muslim) memilih pemimpin yang bukan ahli iman (kafir).# Iman Islam itu tiada ternilai harganya, jangan terpeleset dari keimananmu hanya demi kepentingan dunia.
Dikirim oleh Pahamilah.com pada 16 Maret 2016


[1] Tafsir al-Lubab, V h.406
[2] shahih al-Bukhari, no.3005

http://saifuddinasm.com/2013/10/01/al-nisa144-147-hanya-munfaiq-yang-mengangkat-kafir-jadi-pemimpinnya/

4 comments

betul hanya orang munafik yg mendukungnya

orang di butakan dengan kemakmuran

iman lemah akan terperosok

saatnya para ulama untuk menyadarkan masyarakat muslim