Senin, 14 Januari 2013

Keadilan Wani Piro


EMPAT tahun bukanlah waktu sedikit untuk belajar mengenal teori keadilan dalam pasal dan undang-udang, setiap hari kami bercengkerama dengan aturan, setiap waktu kami menulis makalah dalam bentuk tinjauan maupun intisari peraturan, demi ke-sohihan-nya pun tak jarang kami harus berburu resensi TEBAL ratusan halaman di perpustakaan atau menelusuri jejak-jejak di dunia maya dengan berbekal mesin pencari (google, dsb) dan menggantungkan diri pada tiga huruf hebat "WWW" (http/https) sebagai "jimat" yang kesaktiannya melebihi dukun atau paranormal di muka bumi.

Memang sangat indah dan menyenangkan menimba ilmu tentang keadilan di bangku perkuliahan, sebab yang kami kaji adalah ideliasme kebenaran, disana antara hitam dan putih mudah sekali dibedakan, antara yang bengkok dan lurus sangat tegas tidak boleh dicampur adukkan.

Setelah kami disyahkan dihadapan Majelis dalam seremonial yang disebut dengan istilah wisuda, kami mencoba untuk mengamalkan apa yang telah kami timba, namun ternyata dunia ini begitu SANGAT HITAM yang pekatnya melebihi jelaga, hingga pelita kecil yang kami bawa tiada mampu menerangi sebagaimana mestinya, bahkan untuk tapak kecil kami sendiri dalam melangkah pun cahaya itu seakan tidak bisa membuat jalan yang kami telusuri menjadi terang.

Memang dulu sewaktu menimba idealisme keadilan itu kami juga dikenalkan dengan realita melalui praktek dan belajar menangani suatu kasus, tapi sekarang fakta yang kami hadapi ternyata lebih kejam dan tidak berkeperimanusiaan serta jauh dari nilai moralitas, hukum telah menjadi ROBOT - dikendalikan demi kepentingan pribadi semata, digerakkan oleh oknum manusia-manusia bermoral rendah yang hanya menyukai STANDART HARGA yang terkenal dengan istilah WANI PIRO, jujur dengan berat hati saya enggan memakai istilah OKNUM sebab pada kenyataannya mereka itu lebih banyak daripada manusia yang masih menjunjung moralitas dan kebenaran yang sejujurnya.

Mungkin "kebanyakan" oknum-oknum tersebut akan membantah dengan menggunakan alasan ini dan itu, namun alasan tetap sebuah alasan demi pembenaran terhadap yang mereka kerjakan. (oknum kok banyak? - jadi berasa aneh pada tulisanku sendiri)

Empat tahunku seakan sia-sia belaka, sebab ternyata aku tidak bisa bermain dalam suatu lobi abu-abu yang sarat dengan berbagai macam kepentingan, hati nuraniku tidak sanggup untuk menjadi sosok dalam dua muka, yang disatu sisi harus makan dari hasil tetes keringat yang diperoleh dari mempermainkan keadilan namun di sisi yang lain berdalih bahwa semua ini demi "membela" suatu keadilan yang pada hakikatnya kebenaran itu sendiri masih dipertanyakan.

Aku pernah mengalami suatu ketidakadilan dimana KEPALSUAN itu disyahkan sebagai juara ketika palu hakim berbunyi membentur meja - aku kalah, lalu dimanakah keadilan itu ada? yang kuketahui keadilan yang sebenarnya itu hanya ada dialam sana, dimana ketika mulut dikunci rapat dan hanya anggota tubuh saja yang diperkenankan untuk bicara.


__________________..
NB: tulisan ini aku persembahkan kepada diriku sendiri dan juga untuk sahabat yang kejujurannya tiada berharga dan kebenaran yang diungkapkannya hanya dipandang sebelah mata.