Rabu, 22 Januari 2014

Mari "Mengadakan" Tuhan

Oleh: Drs. KH. M.Zaimuddin Wijaya As'ad, SU


KECANTIKAN wajahnya membuat tak satu pun pria rela membiarkannya berlalu tanpa menatapnya. Kalau saja dia duduk di dekat Dewi Persik atau Asmirandah, maka kedua wanita itu tampak sangat biasa, karena kedua artis tersebut nilai kecantikannya hanya sepertiga dari keelokan wajah dan tubuh wanita yang bernama Jamilah ini.

Para pejabat, saudagar, bankir, jenderal bahkan kepala daerah  berlomba untuk merebut hatinya dengan berbagai cara dan persembahan hadiah, agar dia bersedia dijadikan isteri atau madunya, namun hati Jamilah sama sekali tidak tergerak untuk menyambut panah-panah cinta yang bertebaran dari figur-figur yang mapan tersebut.

Jalan fikiran wanita memang sulit dimengerti, begitu juga Jamilah. Dia tiba-tiba tampak  bercanda-ria dengan seorang pria yang dari sisi  finansial dan status sosial sangat tidak sebanding dengan pria-pria yang mengejarnya selama ini. Karena Fulan, pria yang didekati itu “hanya” seorang dosen muda  di sebuah PTS pinggiran kota.

Seiring perjalanan waktu, canda-ria mereka menumbuhkan rasa khusus di kalbu Jamilah sehingga akhirnya berbuah bisikan lirih yang sama sekali tak Fulan duga sebelumnya :  “ Kanda, kapan kanda melamar dinda..?”. Seketika itu juga hati Fulan terasa sesak oleh kebahagiaan yang membuncah tak terperikan, membuatnya terdiam dalam ketidak pastian antara mimpi dan terjaga.Ia berkali-kali mencubit pipinya sendiri untuk menguji kesadarannya, hingga Jamilah merajuk  : “kanda kok nyubit pipi kanda sendiri saja sih, cubit pipi dinda juga dong.. masak sejak kita dekat selama 6 bulan, kanda tak pernah sekalipun menyentuh dinda..  ”. Fulan hanya tersenyum, lalu memberanikan diri untuk bertanya: “Hehehe.. mengapa dinda begitu yakin bahwa kanda ini pria yang tepat untuk menjadi imam dan pendamping dinda..?”

Jamilah pun menuturkan kesannya ketika Fulan berlebaran ke rumahnya. Saat itu seisi rumah  ke keluar kota, ia tinggal sendirian. Pembantu mudik, sehingga semua pekerjaan rumah ia tangani sendiri. Akibatnya, ketika dia menemui Fulan di ruang tamu dia mengantuk kelelahan sampai tertidur pulas dihadapannya. “Saat dinda membuka mata kuperhatikan jam dinding ternyata hampir dua jam dinda tertidur. Lalu kuperhatikan posisi duduk kanda masih seperti saat datang tadi. Kuamati sekujur tubuhku, busanaku tak berubah letaknya.. padahal saat itu dinda betul-betul tak berdaya dan tak satu pun penghuni ada di rumah, tapi kanda bisa menjaga kehormatan dinda.. kanda tak menyentuhku sedikit pun meski  banyak pria di luar sana yang tergoda dengan paras dan lekuk tubuhku... Itulah kanda yang membuat dinda yakin bahwa kandalah imamku dan anak-anak kita kelak” ungkap Jamilah sambil menundukkan wajah tersipunya.

Pembaca yang dirahmati Allah..perilaku Fulan itu mirip dengan sikap salah satu kelompok yang dijanjikan Allah akan mendapat perlindunganNYA di padang Mahsar kelak ketika tiada perlindungan selain dariNYA. Dalam sebuah hadits dikisahkan, pria tersebut sedang berduaan dengan gadis yang sangat dicintainya. Namun ketika gadis itu menyerahkan diripada gairah kelelakiannya yang memanas, si pria tiba-tiba berucap: “Inniakhafullah, sungguh aku takut pada Allah”.

Ketika peluang  untuk melakukan pelanggaran sangat terbuka lebar namun kita mampu  menahan diri kita tidak melanggarnya karena  takut pada Allah, sejatinya kita sedang dalam kesadaran meng-“ada”-kan Tuhan. Kita merasa melihat Dia hadir dan ada di sekitar kita.

Betapa sering kita mendengar diantara kita yang berkesaksian atas keberadaan Tuhan, namun pada hakekatnya dia tidak pernah sungguh-sungguh menganggap Tuhan itu ada. Sehingga dia hanya melokalisasi Tuhan berada di tempat ibadah saja. Akibatnya, begitu keluar dari “tempat” Tuhan tersebut, dia tidak lagi pedulikan mana halal mana haram, mana hak dan bukan haknya, mana legal dan yang illegal, mereka tidak ambil pusing.Mereka tidak lagi menunggu kesempatan, tapi malah cari-cari kesempatan untuk menikmatinya, asal tidak ada sesama yang mengetahui perbuatannya. Mereka lebih takut pada penglihatan manusia daripada zat Yang Maha Melihat.

Akibat dari “peniadaan” Tuhan itulah maka kasus perzinahan, gratifikasi, suap maupun karupsi barang, dana dan jasa menjadi kabar keseharian di media. Lebih memprihatinkan lagi, ketika mereka menjadi pesakitan di Kepolisian atau KPK, tetap bisa mengumbar senyum tanpa merasa dosa. Kalau sudah begitu, mereka hakekatnya telah “membunuh” Tuhan dikalbunya. Naudzubillah.

Maka, pembaca yang dirahmati Allah.. Kita tidak perlu khawatir untuk berhadapan dengan aparat penegak hukum termasuk KPK, kalau di hati kita dipenuhi kesadaran bahwa Tuhan benar-benar “ada” bersama kita. Mari kita yakini bahwa hanya bersamaNYA lah hidup kita menjadi berkah dan bermanfaat. Kematian kita pun akan membekaskan kebanggaan pada keluarga yang kita tinggalkan. Untuk itu, mari jaga Tuhan agar tetap ada di hati dan sekitar kita. Salam sukses penuh berkah.




Fote note ____________________

Drs. KH. M.Zaimuddin Wijaya As'ad, SU adalah Jajaran Pengasuh di Pesantren Darul Ulum Jombang

 email: zaimuddinasad@yahoo.co.id