Sabtu, 18 Januari 2014

Membingungkan Takdir

 Oleh: Andik Priyo Kunarbowo

Saya ingat beberapa waktu lalu ada konferensi kecil-kecilan, bukan dengan meja kotak atau bundar tapi hanya menggunakan tikar alias lesehan, kegiatan tersebut biasa dilakukan sambil ngopi ditepian bumi yang kian riuh diterpa gemuruhnya kegalauan manusia dalam hilir mudik kehidupannya,

"Mas aku pengen takdirku berubah" itu kata seorang orator yang mengacaukan "takeoff" nya kepulan asap rokok yang berontak ingin mencapai langit tujuh tingkatan, "takdir dimasa depan bagitukah maksudnya?" aku pun mengatakan demikian oleh karena otakku yang "njlimet" ini gak mau menghentikan roda pemikirannya.

"Ya jelas dong mas, apa saya akan terus begini aja?" dia menyahut dalam penuh harap-harap cemas, lalu aku pun menimpali "mas mari berpikir yang realistis aja, jangan berpikir yang tidak-tidak, mending kita berpikir yang iya-iya aja" dan dia pun  bertanya "maksud realistis itu yang gimana?"

Sembari meletakkan cangkir kopi "Star Mbak" yang rasa dan aromanya tidak kalah bahkan lebih nikmat dari "Starbucks" aku pun berkata "sudah tahukah yang akan datang itu mas akan ditakdirin jadi apa? misal gini, kira-kira seminggu lagi atau sebulan lagi atau bahkan setahun lagi kira-kira takdir mas itu akan jadi apa?" sambil mengernyitkan dahi oleh karena full nya benang-benang pikiran yang nyangkut di dahi dia menjawab "ya jelas gak tahu dong".

Sambil menghisap rokok dalam-dalam lalu menikmatinya hingga hembusan terakhir aku pun mengatakan "Jika saya di izinkan bicara "ANDAI" maka coba kita renungkan; andai kita minggu depan atau bulan depan atau mungkin tahun depan ditakdirkan menjadi bupati atau gubernur bahkan menteri atau presiden sekalipun, apakah hal itu tetap akan kita minta untuk dirubah karena tidak terima? jika kita ngotot untuk lebih baik, apakah hal itu merupakan wujud dari rasa syukur atau rakus? kemudian dia pun menimpali "itu bukan rasa syukur dan bisa dikatakan tidak syukur alias rakus"

Kemudian saya berkata lagi "Oke, hal itu jika mengetahui bahwa kedepannya kita akan menjadi lebih baik, namun sebaliknya apabila di masa depan kita malah menjadi yang lebih rendah dari itu , misal memperoleh pekerjaan tidak bergengsi sama sekali atau hanya alakadarnya atau bahkan bisa jadi gak dapat apa-apa hingga jadi (maaf) kere sekalipun, apa yang bisa kita lakukan? apakah kita menolaknya dan tidak terima lalu protes kepada Sang Penguasa Anugerah?"

Dia mencoba untuk berargumentasi "mas takdir itu kan ada takdir baik dan takdir buruk?" aku pun menjawab "baiklah, kalau begitu saya coba untuk perjelas dan "se simple" mungkin; dimasa datang kita tahu apa tidak bahwa kelak ditakdirkan untuk menjadi lebih baik atau sebaliknya? lalu dia menjawab "yang jelas kita semua tidak tahu"

Saya bertanya lagi "Jika kita tidak tahu maka yang dirubah itu takdir yang mana? kecuali dari waktu kekinian kita tahu bahwa dimasa depan bakal memperoleh sesuatu yang buruk, maka untuk menghindari hal itu lalu mencoba melobi Sang Pencipta agar nantinya terhindar dari hal tersebut, mungkin seperti itu ya? dan sayang kita bukan dukun, dan lebih sayangnya lagi bahwa dukun pun tidak tahu masa depan mereka seperti apa, sebab semua itu rahasia Allah semata, semua manusia pasti ingin lebih baik, yang penting kita disini berusaha sebaik dan semaksimal yang kita mampui, mengenai hasilnya bagaimana dan seperti apa, kita sebagai manusia tidak punya hak untuk menentukan hal itu, sebab merupakan hak prerogatif Allah SWT, maka dari itu marilah kita jaga niat, lalu mencoba senantiasa menyempurnakan ihtiar.


“Innallaha laa yughayyiru maa biqawmim hattaa yughayyiru bianfusihim..” {QS. Ar-Ra’d :11}

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri...


Ponorogo 18 Januari 2014