Rabu, 15 Januari 2014

Mencermati Niat

Oleh : Andre Safitri Saputra

" Innama a'malu binniat "
Banyak dari kita yang selalu beralasan pada NIAT.

Yang penting kan niatnya.

Kembali ke niatnya.

Tergantung Niatnya.

Sebenarnya seberapa besar pengaruh niat dalam sebuah langkah atau perbuatan yang hendak kita jalani.

Ketika Chatting dengan non-mahrom itu di lebih baik di tinggalkan karena alasan bisa membuka peluang untuk syaitan dalam menjalankan misinya, Kita juga kembali bralasan yang penting niatnya? emang niatnya apa?

Ketika PACARAN di haramkan karena menjadi jalan mendekati zina, kembali kita beralasan yang penting kan niatnya? emang apa niatnya?

Ketika di beri tahu jilbab yang syar'i itu lebih baik dan lebih di ridhai daripada jilbab gaul yang terlihat modis dan sexy, kembali kita pun beralasan kembali ke niatnya? Emang apa niatnya?.

Sebenarnya niat seseorang itu benar atau salah bisa di lihat dari caranya mengaplikasikan niatnya tersebut. Di akui atau tidak oleh orang tersebut tersebut caranya tetap saja menunjukkan apa yang menjadi tujuannya. Karena niat yang baik harus di sertai dengan cara yang baik, Jika tidak hasilnya kan menjadi terbalik? Betul? terkecuali orang tersebut tidak mengetahui cara yang benar itu seperti apa?.

Mari kita cermati penjabaran berikut:
Seorang Pencuri, Koruptor, Perampok, Penjudi, Pelacur, Tukang Riba, Penipu mereka semua pasti mempunyai niat baik yang sama yaitu MENCARI RIZKI bukan? Niatnya sama untuk menafkahi keluarganya. Niatnya baik atau salah? Baik bukan? Tapi hasilnya menjadi tidak baik karena mereka semua mengaplikasiakan niatnya dengan jalan yang tidak di ridhai. Hasilnya pun menjadi HARTA HARAM dan yang HARAM tidak akan membawa keberkahan.

Begitu pula ketika kita beralasan kita chatting dengan lelaki/pria ajnabi dengan alasan menciptakan/menyambung silaturrahim, menambah saudara/i atau dengan alasan dakwah, mending kalau imannya kuat nih, jadi bisa super kuat menangkal godaan, gimana kalo yang imannya tipis kaya kulit bawang seperti saya ini. Bukannya Silaturrahim dan dakwah yang diperoleh.. malah tergoda dan terjerat VMJ, maka dari itu Perkara fikih mengatakan, menghindari sesuatu yang buruk lebih utama daripada mendatangkan sesuatu yang baik. artinya utamakan menghindari kerusakan sebelum mengambil manfaat.

Ada Juga yang beralasan "Niat saya pacaran bukan untuk main-main. Tapi untuk proses menuju arah yang lebih serius ko, niat saya hanya sebagai ikhtiar menjemput jodoh saya." Ada cara yang lebih aman dan lebih menyelamatkan iman untuk menjemput jodoh dalam Islam. Tidak perlu pakai pacaran, karena semua aktivitas yang terjadi dalam pacaran hanya akan mengundang murka Tuhan (Allah)

Kalo ingin pernikahanmu penuh keberkahan hindari Pacaran!.

Kemudian untuk ukhty semua yang sampai saat ini enggan memakai jilbab Syar'i, ada yang beralasan yang penting kan kita udah nutup aurat dari pada enggak, yang penting kan niatnya juga sama karena Allah kok. Yang bener niiih? Tadi ukhty bilang udah nutup aurat? Terus lekuk tubuh yang masih terpampang itu bukan aurat ya? dan d**a yang masih terlihat menonjol itu juga bukan aurat ya???

Cara menutup aurat yang benar yaitu pakaiannnya tidak menyerupai laki-laki, longgar dan tidak menampakkan lekuk tubuh, serta kerudungnya pun harus menutup dada, itulah menutup aurat yang di perintahkan dan karena Allah, kalo yang sexy itu bukan tuntunan Islam TAPI tuntutan Fashion

(إن العملَ إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يُقْبَل, وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا، لم يُقْبَل حتى يكون خالصا صوابا)

Sesungguhnya amal yang ikhlas tapi tidak benar, ia tidak akan diterima, begitu pula ketika amal itu benar tapi tidak ikhlas… Ia tidak akan diterima hingga menjadi amal yang ikhlas dan benar. (Ikhlas jika dilakukan karena Allah, dan benar jika dilakukan sesuai tuntunan).

Wallahu'alam Bi Shawab.

Niat yang baik harus di susul dengan cara yang baik agar kita memperoleh tujuan yang baik pula. Semoga Allah menerima amal Ibadah kita. Amin Ya rObbal Alamiiiin