Senin, 10 Maret 2014

Alkisah Garam dan Air Pasangan

Oleh: Drs. KH. M.Zaimuddin Wijaya As'ad, SU


Alkisah, seorang pengusaha bernama Suto meraih kesuksesan luar biasa. Namun tidak membuatnya lupa diri karena ia rela berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan. Sehingga banyak organisasi yang memposisikannya sebagai bendahara, baik itu ormas kepemudaan, keagamaan, keolahragaan, organisasi profesi bahkan partai politik.

Akibat kesibukannya berbisnis dan menjalankan tugas di berbagai organisasi, dia layak dikategorikan tipe suami Jarum Super (jarang di rumah suka pergi), sampai-sampai lupa bahwa anak istrinya punya hak untuk mendapat kasih sayang dan perhatinya sebagai sosok imam dalam keluarga.

Si isteri yang cantik lagi sholihah, ingin mengingatkan kelalaian Suto akan kewajibannya itu, tapi tidak punya keberanian untuk mengatakan, karena suaminya selalu berdalih bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah demi ummat atau rakyat yang membutuhkannya.

Si isteri, sebut saja Siti, yang lulusan pesantren Darul’Ulum ini akhirnya menemukan cara cerdas untuk “berunjuk rasa” pada Suto dengan memasukan sesendok garam dalam botol air mineral yang sengaja diserahkannya sendiri ketika Suto hendak pergi jauh. “Ini air minumnya pa.. sebelum minum baca shalawat tiga kali ya, biar semuanya makin lancar..” pesan Siti yang dibalas Suto dengan kecupan di kening wanita yang mirip Fessy Alwi, presenter MetroTV itu.

Sesampai di Krian, saat jalan sedikit macet, ia ingat pesan isterinya untuk baca shalawat diikuti dengan meminum air yang dibekalinya. Betapa kaget setelah ia meneguk air yang ternyata terasa sangat asin. Ia segera ambil HP untuk menelpon dan memarahi Siti, tapi sebelum semua nomor terpencet, ia ingat dengan bacaan shalawat yang baru dilafalkannya sehingga ia mulai mengendalikan emosi dan berfikir jernih tentang makna semua ini.

Sesampai di kawasan Sepanjang, ia berkata pada sopirnya: “Kita ke Kiai Fulan dulu ya, ke Juandanya nanti saja”. Sesampai di kediaman kiai yang sufi itu, Suto sowan dengan membawa sebotol air ukuran 500 ml persembahan si isteri. Dia pun mulai menceritakan lengkap kisah air tersebut yang diakhiri dengan pertanyaan bagaimana ia harus menyikapi isterinya. Kiai yang memiliki mushalla dengan bak air di depannya seluas 12 m persegi itu, tidak menjawab tapi malah masuk rumah dan keluar membawa sekantung garam ukuran setengah kilo. “Ayo ikut saya ke bak air wudhu itu..” ajak kiai pada Suto yang masih diliputi tandatanya.

“Bungkusan garam ini lebih besar dari botol kamu, aku masukkan semuanya ke bak ini. Mari kita aduk sama-sama..” ajak kiai yang diikuti Suto dengan rasa penasaran. “Sudah lima menit lebih kita aduk, sekarang cicipi airnya dan rasakan keasinannya..”. Suto berkali-kali pindah tempat untuk merasakan air itu yang ternyata lidahnya tidak mampu mendeteksi rasa garamnya.

“Begini maknanya..” Kiai Fulan mulai menjelaskan.. “Garam adalah lambang permasalahan yang kita hadapi, tak satu pun manusia normal terbebas dari masalah, karena masalah adalah bagian dari ujian Tuhan terhadap hambanya untuk menyeleksi mana hamba yang takwa dan yang tidak.

Kadar garam atau masalah bisa sama, satu sendok, tapi bagi orang yang punya air hanya sebotol maka ia akan kehilangan jati diri keasliannya, larut dalam masalah, namun bagi yang memiliki air sekolam, garam tersebut sama sekali tak berpengaruh, maka perbanyaklah perbendaharaan airmu dengan hati yang selalu dzikir ingat pada Allah, sehingga kamu benar-benar bisa merasakan apakah masalah ini buah dari kesalahan-kesalahan masa lalumu atau memang betul-betul ujian dari Tuhan.

Bila itu akibat kesalahanmu, maka bersyukurlah karena kamu diberi kesempatan lebih awal untuk memperbaikinya, sehingga tidak harus memepertanggung-jawabkannya di akhirat. Namun bila itu ujian Tuhan, maka hadapilah dengan optimisme karena itu pertanda Allah akan mengangkat derajatmu..”

“Maaf kiai.. bagaimana dengan air isteri saya tadi.?” Sela Suto. “Itu berarti buah kesalahan masa lalumu.. maka sekarang batalkan keberangkatanmu ke Jakarta, kembalilah pada isterimu karena dialah sesungguhnya yang akan memperbanyak air di hatimu sehingga akan membuatmu lebih kuat menghadapi masalah dari ujian Tuhan”. Tukas kiai Fulan sambil menepuk pundak Suto.

Satu jam kemudian, betapa kagetnya Siti melihat kedatangan suaminya yang tergesa-gesa masuk rumah. “Apa ada yang ketinggalan pa..?” sapa siti. “Dulu memang ada yang ketinggalan ma, tapi sekarang tidak akan lagi.. karena aku akan membawa diri dan hatimu bersamaku selalu…. “ kata Suto sambil memeluk erat isterinya yang mulai menitikkan air mata bahagia.

Untuk itu, pembaca yang budiman, jangan pernah melupakan dukungan pasangan dalam meraih kesuksesan. Apalah arti sukses di luar rumah bila di rumah sendiri tidak terbangun suasana “baity jannaty”, rumahku adalah surgaku, sebagaimana rumahtangga Rasulullah.. Salam sukses penuh berkah.


Fote note ____________________

Drs. KH. M.Zaimuddin Wijaya As'ad, SU adalah Jajaran Pengasuh di Pesantren Darul Ulum Jombang

 email: zaimuddinasad@yahoo.co.id