Selasa, 01 April 2014

Akhirnya Rusia Menceraikan Dolar AS

Inilah yang dibutuhkan Putin. Setidaknya, sejak 2007, ia mencoba memulai sistem rubel independen, yaitu sistem keuangan yang akan didasarkan pada ekonomi riil dan sumberdaya Rusia serta dijamin cadangan emasnya.

Rusia telah "dipaksa" oleh sanksi untuk menciptakan sistem mata uang yang independen dari dolar AS. Baru-baru ini, negara eks Uni Soviet itu mengumumkan akan menjual (dan membeli) produk dan komoditas--termasuk minyak--dalam rubel, bukan dalam dolar. Langkah ini mengarah pada perkembangan bilateral.

Demikian ungkap analis keuangan global, Umberto Pascali. "Putin telah mempersiapkan langkah ini--penciptaan sistem pembayaran dalam rubel benar-benar independen dan dilindungi dari dolar dan 'para spekulan pembunuh' (misalnya jual-cepat) dari lembaga keuangan besar Barat--untuk jangka waktu lama," imbuhnya.

Setelah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa bank Rusia untuk "menghukum" Rusia atas kasus Crimea, lanjut Pascali, para politisi Washington diberitahu kekuatan keuangan untuk mundur. "Karena, jelas-jelas, vampir Wall Street memahami bahwa menempatkan bank-bank Rusia di luar jangkauan gigi pengisap darah mereka bukanlah ide yang bagus," ujarnya.

Bagi Wall Street dan jasa keuangan kota, lanjut Pascali, negara-negara seperti Rusia harus selalu memiliki pintu keuangan yang terbuka di mana ekonomi riil mereka dapat dijarah secara berkala. "Jadi, Washington memberitahukan bahwa merupakan kesalahan jika sanksi diterapkan pada seluruh bank Rusia; semestinya hanya satu bank, yaitu Rossiya, yang dikenai sanksi, dan itupun untuk alasan propaganda dan contoh semata," paparnya.

Inilah yang dibutuhkan Putin. Setidaknya, sejak 2007, ia mencoba memulai sistem rubel independen, yaitu sistem keuangan yang akan didasarkan pada ekonomi riil dan sumberdaya Rusia serta dijamin cadangan emasnya. "Tak ada toleransi bagi penjarahan dan spekulasi keuangan: Sebuah langkah damai, tapi pada saat yang sama menjadi deklarasi kemandirian yang akan dianggap Wall Street sebagai 'deklarasi perang'," kata Pascali.

Menurut strategi Judo, serangan sanksi menciptakan situasi yang ideal bagi langkah "defensif" yang akan membalikan kekerasan musuh pada dirinya sendiri. Sekarang, itulah yang terjadi. Bank Rossiya akan menjadi bank Rusia pertama yang menggunakan secara eksklusif rubel Rusia.

Langkah ini pun dilakukan secara terang-terangan. Sebuah simbol rubel emas raksasa akan didirikan di depan markas Bank Rossiya di Perevedensky Pereulok, Moskow, "untuk melambangkan kestabilan rubel dan dukungan dari cadangan emas negara," kata kantor resmi Itar-Tass yang mengutip pejabat bank.

Bahkan, tekad para pejabat begitu jelas untuk menghukum spekulan Barat yang telah menjarah negara mereka dalam waktu lama, "Rusia, pada tahap perkembangan sekarang, tidak boleh tergantung pada mata uang asing. Sumberdaya internalnya akan menjadikan ekonominya kebal terhadap para calo politik."

"Ini hanya langkah pertama," ujar Andrei Kostin, presiden VTB, bank lain yang sebelumnya dijatuhi sanksi. Ia menambahkan, "Kami telah bergerak menuju penggunaan lebih luas mata uang rubel Rusia sebagai mata uang yang mapan untuk waktu lama. Rubel sepenuhnya menjadi dapat ditukar sejak waktu lama. Sayangnya, sebelumnya kita telah melihat konsekuensi negatif dari langkah itu sejauh ini sebagaimana terungkap dalam arus modal keluar dari negara ini. Masuknya investasi asing ke Rusia bersifat spekulatif dan sangat tidak stabil bagi pasar saham kita."

Menurut Itar-Tass, Kostin sangat tepat dan kongkrit (saat mengatakan), "Rusia harus menjual produk dalam negeri--mulai dari senjata hingga gas dan minyak--ke luar negeri dengan rubel dan membeli barang-barang asing juga dengan rubel... Kelak, kita akan mendapatkan keuntungan dari rubel sebagai mata uang asing secara penuh."

Putin sendiri melobi untuk membangun sistem baru dalam pertemuan dengan anggota Majelis Tinggi Duma, pada 28 Maret, guna mengatasi keraguan terakhir dan tak adanya keputusan, "Mengapa kita tidak melakukannya? Ini harus dilakukan, kita perlu melindungi kepentingan kita, dan kita akan melakukannya. Sistem ini bekerja, dan bekerja dengan sangat berhasil di negara-negara seperti Jepang dan China. Mereka awalnya memulai secara terbatas pada [sistem] nasional di pasar mereka sendiri serta di wilayah dan populasi mereka sendiri, namun secara bertahap menjadi lebih dan lebih populer...."

Rupanya Rusia mulai menyusul keberhasilan beberapa negara yang telah lebih dulu menjatuhkan talak tiga pada dolar AS atau Euro dan menggunakan mata uangnya sendiri sebagai cadangan devisa, seperti Cina, Jepang, dan dalam skala tertentu, Iran.Bagaimana dengan Indonesia? (islamtimes/pahamilah)