Sabtu, 19 Juli 2014

Ketika Muslim Jadi Mayoritas di Kota Ufa Rusia

(Suasana Ramadan di Masjid Lyalya Tyulpan (Masjid Tulip Kembang) 
ialah masjid terbesar di Bashkortostan dan ketiga terbesar di Russia.)


Oleh: *Alstonia Maharani


Saat ini saya tinggal di daerah selatan pegunungan Ural tepatnya di kota Bashkortostan. Ibu kota Bashkortostan itu sendiri adalah Ufa. Kota Ufa merupakan salah satu kota terbesar di Rusia, sebuah kota yang indah dengan populasi melebihi tiga juta orang.

Menurut proporsi etnisitasnya, kota Ufa didominasi oleh orang Rusia, Tatar, dan Bashkir. Kota ini juga menjadi tempat tinggal bagi minoritas lainnya yaitu orang Azeri, Armenia, Belarus, Kazakh, Vietnam, Korea, Latvia, Mari, Mordvinia, Jerman, Udmurt, Yahudi, Ukraina, dan Chuvash.

Mayoritas penduduk di Ufa kebanyakan menganut agama Islam, jadi sangat mudah untuk menemukan masjid untuk tempat beribadah. Di Bashkortostan seperti halnya di negara lainnya saat ini sedang merayakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Bulan yang paling penting dan terhormat bagi umat Islam. Selama sebulan penuh kita harus meninggalkan minum, makan, dan hal-hal yang memang dilarang pada saat bulan Ramadan untuk dilakukan.

Berpuasa di Ufa berbeda sekali dengan Indonesia. Di sini berpuasa sekitar 19-20 jam, sedangkan di Indonesia sekitar 13-14 jam. Oleh karenanya para dokter di sini sangat peduli kepada umat Islam dengan memperingatkan bahwa dengan cuaca yang tidak menentu di Ufa, terkadang panas sekali dan juga sangat dingin dapat mempengaruhi kesehatan orang-orang, terutama bagi orang tua serta orang dengan penyakit kronis. Orang yang sedang sakit, wanita hamil dan menyusui disarankan untuk tidak puasa apabila sekiranya membahayakan fisiknya. Oleh karena itu dokter menyarankan makan makanan berprotein lebih banyak dan cairan untuk mengembalikan keseimbangan air dan energi dalam tubuh kita.

Setahun sekali kita melakukan ibadah puasa di bulan Ramadan, tidak hanya merasakan lapar dan haus tetapi kita juga harus menahan hawa nafsu. Di sini yang terpenting adalah apa yang kita dapatkan setelah berpuasa selama kurang lebih 30 hari, kebaikan-kebaikan apa yang telah kita perbuat, perubahan dalam diri apa yang kita sudah dapatkan. Karena bulan Ramadan memiliki berbagai keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya oleh karenanya jangan sampai tidak ada sesuatu yang bermakna dan tidak adanya perubahan dalam diri kita setelah bulan Ramadan. Sehingga kelak manusia akan mencapai titik kesempurnaan apabila terus-menerus melakukan perbaikan dan evaluasi diri.

Selama melewati 15 hari berpuasa di Kota Ufa ini, banyak hikmah-hikmah yang sudah saya dapatkan. Antara lainnya yang mau saya sampaikan adalah :

1. Di Ramadan ini mengajarkan kita untuk tetap bersabar dan ikhlas. Melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan rintangan. Kita tidak hanya berpuasa, tapi menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dan segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga senantiasa terbiasa dan terlatih untuk bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Latihan kesabaran dan keikhlasan inilah yang menimbulkan kemajuan positif bagi kehidupan kita kelak.

2. Melatih diri untuk berdisiplin waktu. Dalam tiga puluh hari, terjadwal dengan rapih apa yang akan kita perbuat di bulan Ramadan ini. Setiap orang pasti memiliki jadwal waktu masing-masing. Membagi waktu dari mulai sahur, kuliah, ngaji, salat berjamaah, belajar, masak dan semua kegiatan yang berbau kebaikan. Di bulan Ramadan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah dan amal-amal sunat. Rutinitas yang sudah teratur dan disiplin inilah yang membawa tujuan kehidupan kita akan lebih baik lagi.

3. Mengerti pentingnya arti persaudaraan dan silaturahmi. Di dalam ajaran Islam ada persaudaraan sesama muslim, di sini tampak jelas persaudaraan di bulan Ramadan. Hal yang saya rasakan di sini walaupun tinggal di asrama pada saat sahur dan berbuka puasa, tidak perseorangan tetapi kita selalu beramai-ramai. Banyak teman-teman muslim dari Nigeria, Yemen, Tanzania, Mali, Uzbekistan dari persiapan sahur dan menjelang berbuka puasa, kami selalu bersama-sama. Begitu pun apabila berbuka di Masjid, seperti halnya di Indonesia, memberikan takjil gratis pada perbukaan puasa secara gratis kemudian salat bersama di masjid. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkrama, salat Tarawih bareng dan saling mengajarkan Qur'an. Dengan ukhuwah islamiyah yang kuat berarti kita juga memperkuat agama Islam itu sendiri.

4. Bulan Ramadan memberikan arti hidup hemat dan sederhana. Segala kebutuhan kita di bulan Ramadan ini bisa dibilang berkurang, kita makan dan minum pada saat sahur dan buka puasa. Kita tidak harus membeli banyak minuman dan kue yang akhirnya tidak kita makan. Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita tabung atau juga dapat disedekahkan bagi yang lebih membutuhkan.

5. Meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT, atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita. Dengan berpuasa kita pun bisa merasakan hal yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang memang tidak mempunyai makanan. Rasa syukur kita akan adanya nikmat makanan yang telah kita punyai terasa ketika kita puasa.

Sungguh ini merupakan sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa, karena saat ini kita semuanya umat muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, ampunan, rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Semoga kita dan para pembaca diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk membentuk pribadi muslim yang bertakwa. (detik/pahamilah)




*) Penulis merupakan mahasiswi jurusan Operation and Maintenance of oil production facility di Ufa State Petroleum Technical University (USPTU).