Minggu, 13 Juli 2014

Kisah Membenci Islam Untuk Mencintainya


Jay (65) adalah seorang veteran, Jay muda hidup saat AS terlibat perang dengan Vietnam. Ia pun ambil bagian dalam perang tersebut.

Kini, ia seorang insinyur mekanik perusahan swasta yang sukses. Ia memiliki keluarga yang harmonis. Lengkap sudah. Namun, semua itu berubah ketika tragedi 11 September terjadi. “Saya merasakan kebencian yang luar biasa terhadap Islam,” kata dia.

Jay lahir sebagai seorang Katolik. Namun, ia bukanlah orang yang religius. Tragedi 9/11 yang dibarengi dengan kebencian terhadap Islam mendorongnya pergi ke gereja. Ia pelajari Alkitab.

“Saya merasaknya ada yang kurang. Usia saya 65 tahun, saya sulit percaya pada doktrin Kristen,” kata dia.

Di saat bersamaan, Afshan, seorang perempuan muda asal Pakistan baru tiba di AS. Mimpinya memiliki keluarga hancur. Ia pun bekerja di sebuah spbu. Bagi perempuan muda ini, hidup di negara asing tidaklah mudah. Satu-satunya yang dimiliki Afshan adalah kepercayaan kepada Allah.

“Aku seorang Muslim, aku harus menunjukan akhlak yang baik walau kondisiku sekarang ini begitu buruk,” kata dia.

Allah SWT punya rencana terhadap Jay dan Afshan. Jay pelanggan tetap pomp bensin tempat Afshan bekerja. Suatu kesempatan, Jay dan Afshan berbincang. Afshan saat itu bercerita tentang bagaimana negara asalnya tengah terlibat perang tak jelas.

Jay begitu kagum, ketika Afshan bercerita tentang Islam dan shalat lima waktu.

“Ia jadi korban, tapi ia masih bersyukur kepada Allah,” kata Jay.

Karena penasaran, Jay mulai mencari tahu informasi tentang Islam dan Muslim. Bahkan, ia mulai mengunjungi masjid guna menghadiri pelaksanaan shalat Jumat.

“Saya mendengarkan khutbah dengan serius. Jujur, saya merasa damai dan tenang. Saya mulai merasa dekat dengan Tuhan.” kenang dia.

Rutinitas itu ia lakukan selama sembilan bulan. Ia mulai merasakan kebingungan. Lalu, ia bertanya kepada Afshan, bagaimana cara menjadi Muslim. Ia pun memintanya mengajari mengaji dan shalat.

“Pada 16 Januari 2012, saya bermimpi, mendengar suara yang mengatakan saya untuk mengikuti utusan-Ku. Sejak itu saya terus berpikir, lalu saya menelpon masjid dan memutuskan memeluk Islam,” kata dia.

“Saya menjadi Muslim pada usia 65 tahun, yang saya rasakan adanya ketenangan, sukacita, kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah begitu erat,” kenang dia.

Tak berlama-lama menyandang status Mualaf, Jay mulai berpuasa, berkurban. Ia pun rajin bersedekah dan tak ragu mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Ia pun mengangkat Afshan sebagai anaknya.

Jay, kini berganti nama menjadi Ali. Ia merasa sangat diberkahi karena menemukan kebenaran, Alquran dan Islam pada usianya yang ke 65 tahun.

“Suatu hari nanti, keluarga saya akan mengikuti jejak saya. Semoga mereka mendapatkan kebenaran Islam.” (detikislam/pahamilah)