Senin, 11 Agustus 2014

Arnold Van Doorn Politikus Belanda Penyebar Film Fitna Masuk Islam

Van Doorn bersama anaknya Iskander

Pahamilah.com - Belum lama ini, politikus asal Belanda, Arnold Van Doorn memeluk Islam. Disusul kemudian sang anak, Iskander Amien de Vrie. Seperti diketahui, Van Doorn dikenal sebagai kolega Wilders yang selalu saja menyudutkan Islam. Ia juga ambil bagian dari film Fitna yang melecehkan Rasulullah.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang membuat Van Doorn memutuskan menjadi Muslim. Berikut ulasan wawancara Onislam bersama Dr. Shabir Ally, President of the Islamic Information Center.

P: Apa yang membuat Arnould Van Doorn berubah begitu drastis?

J: Ya, sebagai awal jika Anda tidak keberatan, ketika dia berbicara di Toronto, ia berkata," saya belum pernah menjadi bagian dari Islamofobia, meskipun tentu saja saya adalah bagian dari gerakan yang mengkritik Islam". Tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut, seperti apa perbedaan antara orang yang mengkritik Islam dan Islamophobia.  Tentu, apa yang dikatakan Van Doorn menyiratkan dua hal itu berbeda satu dengan lainnya.

Namun, satu hal menarik, Van Doorn pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah terlibat dalam produksi film Fitna. Ia hanya menyebarkan film tersebut. Sebagai rasa bersalah, ia pun memutuskan untuk memproduksi film yang menyoroti kehidupan mulia Rasulullah.

Kembali ke pertanyaan Anda?, saya kira ini akibat dari film tersebut. Ia tentu didekati banyak Muslim yang ingin menunjukan kepadanya cahaya Islam. Awalnya, ia menolak, dan hanya melihat bagaimana ia bertemu umat Islam, dan berbicara kepada mereka.

Ketika ia pergi ke masjid, ia merasakan keraguan. Ia pula ke rumah hari itu dengan rasa bingung. Ada sesuatu yang indah tentang Islam. Ada kedamaian, dan ketenangan di masjid yang ia alami. "Saya tidak bisa tidur malam itu," kata Van Doorn. Ia pun kembali ke masjid keesokan hari.

Pertemuan yang terjadi dengan umat Islam selama beberapa bulan, dan akhirnya memeluk Islam.

P: Ia terlihat cukup aktif mencari informasi tentang Islam. Apakah ia mulai mengetahui bahwa banyak hal yang dipahaminya tentang Islam keliru?

J: Ya, itu benar. Dia seorang cerdas. Ketika ia bekerja untuk dewan kota, ia dilirik oleh Geert Wilders. Ini artinya, ia politikus Belanda yang brilian. Bersama Wilders, ia harus berpikir tentang isu sosial dan politik. Ia juga harus membaca isu tentang Islam dan Muslim. Jadi, ia melalui proses yang membuatnya secara alami mengetahui informasi tentang Islam secara benar melalui pemikiran yang cermat dan penelitian.

P: Anaknya kemudian menjadi Muslim.
J: Van Doorn mengaku tidak memiliki anak secara biologis. Namun, ia menjadi orang tua asuh untuk empat anak. Iskander, yang belum lama memluk Islam, merupakan salah satu anak asuhnya. Iskander mengaku menjadi Muslim karena melihat banyak perubadahan dalam diri ayahnya. Ia melihat ayahnya begitu damai.
Selanjutnya, ada temanya yang berdakwah. Ia pun menerima dakwah itu,

P: Belakangan Islam dan Muslim banyak disudutkan. Nyatanya dari kebencian itu lahir rasa cinta terhadap Islam, apa yang terjadi?

J: Kita tidak boleh kehilangan harapan, dan harus memahami bagaimana kebencian itu lahir. Anda tahu, ketika Anda memahami itu, Anda akan memiliki persepektif orang lain yang nantinya akan kita ubah dari persepektif itu tadi.

Lain cerita, ketika Anda hanya melihat kebencian itu dari perspektif karena mereka musuh Islam. Kita akan terlibat pertempuran, namun tidak tahu apakah kita bisa menang atau tidak. Jadi, kita perlu penyesuaian sebelum memberitahu orang lain.

P: Dalam prosesnya tidak semudah itu bukan?

J: Ya, tapi kita tidak boleh kehilangan harapan. Anda tidak boleh kehilangan fokus dan mengabaikan fakta bahwa banyak orang di luar sana yang tidak tahu apa itu Islam dan Muslim. (republika/pahamilah)