Minggu, 17 Agustus 2014

Inilah Alasan Utama Aksi Militer Terbaru AS dan Perancis di Irak

Foto: Kicauan John Kirby di akun Twitternya.


Pahamilah.com - Mengapa sekarang Obama kembali melakukan aksi militer AS ke Irak? Mengapa Prancis sangat mendukung aksi militer tersebut?

Obama mengklaim bahwa aksi militer itu dimaksudkan untuk melindungi kaum minoritas. Tentu saja ini bukan hal baru. Obama adalah presiden keempat berturut-turut yang mengebom Irak... seraya mengklaim semua itu untuk tujuan kemanusiaan.

Namun arsitek Perang Irak (yang dimulai pada 2003) itu sendiri mengakui bahwa aksinya berkisar soal minyak. Namun bagaimana dengan sekarang? Mengapa AS dan Prancis kini mengerahkan kekuatan militernya di Irak?

ISIS berhasil merebut beberapa ladang minyak utama di wilayah Kurdi, Irak, pada 3 Agustus 2014 lalu. Hanya beberapa hari kemudian, AS mulai mengebom ISIS.

Rangkaian serangan itu ditargetkan untuk melindungi sumberdaya minyak. Ini sebagaimana dicatat International Business Times,

"Sekretaris Pers Pentagon Laksamana John Kirby berkicau, 'Militer AS melakukan serangan pesawat terhadap artileri ISIS [Negara Islam]. Artileri itu digunakan untuk melawan pasukan Kurdi yang melincungi Erbil, dekat personel AS.'"

"Dua pesawat tempur F-18 menjatuhkan bom 500 seberat pon yang dipandu laser pada target artileri bergerak. Militan Negara Islam menggunakan artileri yang ditinggalkan tentara Irak saat melarikan diri untuk memberondong pasukan Kurdi yang melindung ibukota provinsi Kurdistan."

"Serangan udara AS sangat kecil dan sangat bertarget, dan pasukan Peshmerga Kurdistan menanti serangan jet tempur AS yang lebih banyak, menurut laporan."

Perlu dicatat bahwa pada awalnya, pembunuhan, kekacauan, dan kekejaman berbulan-bulan ISIS terhadap warga Kristen dan minoritas lainnya tidak mendorong AS atau Prancis melakukan intervensi militer untuk alasan "kemanusiaan". Dalam hal ibi, serangan udara itu hanya ditargetkan untuk melindungi Erbil, ibukota wilayah Kurdistan.

AS dan Prancis tidak pernah mengangkat jarinya untuk melindungi warga Kurdi. Memang, AS secara aktif telah mengkhianati suku Kurdi dan membiarkan mereka dibantai. Misalnya, selama Perang Teluk, AS menyeru suku Kurdi untuk bangkit melawan Saddam (yang menyiratkan bahwa AS akan melindungi mereka); namun kemudian membiarkan Saddam membantai suku Kurdi secara massal.

Jadi, mengapa AS dan Prancis kini tergerak untuk melindungi Erbil? Jawabnya: Erbil merupakan pusat minyak utama. Pemerintah Kurdi memperkirakan bahwa wilayah ini menjadi produsen minyak terbesar ke-9 di dunia.

Perusahaan-perusahaan minyak di seluruh dunia beroperasi di Kurdistan, termasuk:

1. Perusahaan minyak raksasa AS seperti Exxon Mobil, Chevron, Aspect Energy, Marathon Oil Corporation, Hillwood International Energy, Hunt Oil, Prime Oil, Murphy Oil, Hess Corporation, HKN Energy, dan Viking International.

2. Perusahaan minyak raksasa Prancis, seperti Total.

3. Perusahaan minyak Kanada, seperti Forbes and Manhattan, Western Zagros Resources, Talisman Energy Inc, NIKO Resources, Ground Star, Shamaran.

4. Korea Selatan, seperti Korea National Oil Company (KNOC).

5. Turki, seperti Genel Energy, Petoil, Dogan.

6. Inggris, seperti Gulf Keystone Petroleum, Sterling Energy, Heritage Oil.

7. Anglo-Perancis, seperti Perenco.

8. UAE, seperti TAQA dan Dana Petroleum.

9. Austria, seperti OMV.

10. Cina memperoleh kehadiran signifikan di Kurdistan, Irak, setelah Sinopec Group membeli Addax Petroleum pada 2009.

11. Hongaria, seperti MOL.

12. India, seperti Reliance Industries.

13. Papua Nugini, seperti Oil Search.

14. Rusia, seperti Norbest dan Gazprom Neft.

15. Norwegia, seperti DNO.

16. Irak, seperti PT Oil Search (Irak), Kar Group, Qaiwan Group.

17. Spanyol seperti Repsol.

18. Perusahaan mandiri seperti Afren.

Ya, dengan keberadaan Chevron, Exxon, Marathon, Hess, dan Total yang mengoperasikan fasilitas utamanya di Erbil, perang Irak terbaru lagi-lagi berkisar soal minyak... sebagaimana ditegaskan New Yorker, New Republic, dan Vox.

Bagi kalangan yang tidak percaya bahwa minyak Irak mendorong kebijakan luar negeri AS, silahkan menengok artikel Brookings yang dipublikasikan pada bulan Juni, "Harus jelas bahwa pertimbangan utama AS yang muncul dari [penyitaan kapling besar Irak oleh ISIS] adalah potensinya untuk mempengaruhi produksi minyak Irak. Setiap gangguan signifikan terhadap produksi minyak Irak saat ini atau penurunan jangka panjang dalam pertumbuhannya akan berakibat besar bagi ekonomi AS."  (islamtimes/pahamilah)