Minggu, 28 September 2014

Jend. Wesley Clark: "Sejak 2001, AS Berencana Caplok 7 Negara"

Jend. Wesley Clark

Pahamilah.com - Jenderal (Purn.) Wesley Clark Mengungkapkan bahwa ia diberitahu, beberapa hari setelah peristiwa 11 September 2001, bahwa Departemen Pertahanan berencana mengobarkan perang dengan Irak, Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.

Clark dianggap sebagai komandan terpandang selama berdinas dalam militer sejak 1966 hingga 2000, dan meraih pangkat jendral bintang-4. Ia membicarakan hal itu dalam sebuah wawancara dengan Amy Goodman dalam acara Democracy Now pada 2 Maret 2007.

Berikut adalah transkrip pembicaraan Jend. Clark,

"Sekitar 10 hari setelah 9/11, saya pergi ke Pentagon, dan melihat Sekretaris [Pertahanan] [Donald] Rumsfeld dan Wakil Sekretaris [Paul] Wolfowitz. Saya turun untuk menyapa beberapa orang di staf gabungan yang dulunya bekerja untuk saya."

"Salah seorang jenderal menelepon saya dan berkata, 'Pak, Anda harus kemari dan berbicara dengan saya.' Saya berkata, 'Pak, Anda kan sangat sibuk.' Dan ia berkata, 'Tidak, tidak! Kami telah membuat keputusan--kita akan perang dengan Irak.' Ini terjadi pada atau sekitar tanggal 28 September! Saya bilang, 'Kita akan berperang dengan Irak? Mengapa!?' Ia berkata, 'Saya tidak tahu!' Ia berkata, 'Saya kira mereka tak tahu harus berbuat apa lagi.' Lalu saya berkata, 'Apakah mereka mendapatkan sejumlah informasi yang menghubungkan Saddam dengan al-Qaeda?' Ia berkata, 'Tidak, tidak, tidak ada yang baru seperti itu. Mereka hanya membuat keputusan untuk berperang dengan Irak.' Ia [juga] berkata, 'Saya kira, sepertinya kita tak tahu apa yang harus dilakukan dengan para teroris, tapi kita punya militer yang baik dan kita bisa menjatuhkan pemerintah [Irak].'"

"Kemudian saya datang kembali untuk menemuinya beberapa minggu kemudian, dan saat itu, kami mengebom Afghanistan. Dan saya berkata, 'Apakah kita masih akan berperang dengan Irak?' Dan ia berkata, 'Oh, malah lebih buruk dari itu.' Ia berkata sambil mengulurkan tangannya di atas meja dan mengambil secarik kertas, 'Saya baru saja menerima ini dari lantai atas,' yang berarti kantor Sekretaris Pertahanan. Dan ia berkata, 'Ini adalah sebuah memo yang menjelaskan tentang bagaimana kita akan mencaplok tujuh negara dalam lima tahun. Dimulai dengan Irak, kemudian Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan akhirnya Iran.'"

Pertanyaannya: mengapa rencana invasi tujuh negara ini dimasukkan dalam memo resmi hanya beberapa minggu setelah serangan 11 September 2001? Negara-negara itu jelas tidak ada hubungannya dengan pembajakan. Namun, para jenderal Amerika justru dibriefing seputar rencana serius untuk menyerang mereka. Mengapa?

Rencana yang diusulkan jelas-jelas tidak berjalan sama persis dengan apa yang tertulis dalam memo itu. Tapi, semua itu memungkinkan siapapun untuk melihat agenda beberapa pembuat kebijakan yang sangat haus darah, karena berupaya mengeksploitasi kesedhan yang dirasakan menyusul runtuhnya Menara Kembar World Trade Center.

Tak ada jaminan bahwa "rencana" itu tidak lagi dicanangkan. Toh Pentagon terus mempertahankan alur stabil dari intervensi luar negerinya yang agresif, baik selama pemerintahan Bush maupun Obama. Seperti yang dapat disaksikan, banyak dari apa yang diungkapkan Jend. Clark pada akhirnya bergerak maju, meskipun dengan linimasa yang dimodifikasi.

Pemerintah Irak digulingkan AS selama invasi besar-besaran berdarah pada 2003. Pasukan komando AS beroperasi secara diam-diam di Sudan setidaknya sejak 2005. AS beroperasi di Somalia sejak 2007 secara sembunyi-sembunyi dan melalui serangan rudal. Pemerintah Libya digulingkan dengan bantuan dukungan rudal AS pada 2009. AS memulai kampanye pengeboman di Suriah pada 2014. Nasib Iran masih belum ditentukan, tapi sering menjadi sasaran retorika pro-perang dalam siklus pemilunya. (islamtimes/pahamilah)