Senin, 08 September 2014

Khawarij Perindu Kehidupan Akhirat di Jalan yang Salah

Khawarij (ilustrasi) 

Pahamilah.com - Sepanjang sejarah Islam muncul satu kelompok tertu yang tampil dengan pemikiran berbeda tentang Islam. Kelompok ini muncul pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Mereka dikenal sebagai Karijis, satu kelompok yang membuat kacau balau pemerintahan Ali. Memang, mereka tidak pernah menjadi kekuatan politik di dunia Islam. Namun, mengutip komentar khalifah Umar bin Abdul Aziz, Khawarij adalah kelompok yang merindukan kebahagiaan di akhirat namun menempuh jalan yang salah.

latar Belakang

Pada bulan Juni tahun 656 , khalifah Utsman bin' Affan dibunuh. Para pembunuhnya adalah anggota kelompok Khawarij yang tidak puas dengan kebijakan sahabat Utsman terhadap provinsi Mesir. Berbeda dengan dua khalifah sebelumnya, Abu Bakar dan Umar, yang menunjuk siapa penggantinya secara tidak langsung, Usman tidak sempat mempersiapkan siapa penggantinya.

Para pembunuh, yang kini memegang kendali efektif di ibukota, Madinah, ingin Ali menjadi khalifah baru. Ali secara alami menolak penunjukan tersebut. Namun, atas bujukan para sahabat lainnya, Ali menerima itu.
Di masa Ali, hampir terjadi perang saudara yang melibatkan dua pihak yang bertikai. Menurut Esposito, masa ‘’fitnah besar’’, yakni antara 656 dan 661 M, adalah waktu kemunculan kelompok ini.

Semua berawal dari Perang Shiffin antara  kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Ketika perang saudara pertama dalam Islam itu berakhir di meja arbitrase, kelompok pendukung Ali yang sebagian besar berasal dari suku Tamim, mulai melakukan pembangkangan.

Kelompok Khawarij menuding Khalifah Ali telah mengingkarti surah Al-Hujurat [49] ayat 9, ‘’Jika dua golongan orang beriman berperang satu sama lain, damaikanlah mereka. Jika salah satu dari mereka berbuat aniaya kepada yang lain, perangilah yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah SWT.’’

Keputusan Ali yang menyetujui arbitrase dinilai kelompok Khawarij sebagai sebuah dosa besar, karena telah mengingkari ayat-ayat Allah SWT. Dalam pandangan kelompok Khawarij, Khalifah Utsman layak mati karena kesalahan-kesalahannya. Ali-lah Khalifah yang sah, dan Muawiyah adalah pembangkang dan agresor yang tak layak di-tahkim.

Prinsip Khawarij

Ketika Ali dinilai melakukan kesalahan, muncul ideologi yang menyatakan individu yang melakukan dosa tidak layak memerintah. Ini ide yang ekstrim waktu itu, dan itu bukan yang terakhir.

Akhirnya, Kharijis berpendapat bahwa dosa-dosa adalah bentuk kekufuran. Orang yang kufur dapat diperangi meski ia seorang sahabat Nabi atau Khalifah. Selain itu, jika Anda tidak setuju dengan keyakinan mereka adalah dosa besar, Anda disebut kafir dan bisa diperangi.

Keyakinan Khariji tidak memiliki banyak dasar dalam teologi Islam. Imam al-Tahawi, mengatakan satu-satunya hal yang disebut kafir terhadap seorang Muslim adalah ketika ia tidak lagi percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sebagian besar Kharijis tidak berpendidikan namun fasih membaca Alqur'an dan hadist. Mayoritas dari mereka adalah perampok gurun Badui yang lahir karena kurangnya pemahaman Islam. Mereka gagal dalam upaya mereka untuk membunuh Muawiyah dan 'Amr ibn al-'As, yang mendukung Muawiyah.

Namun pada tahun 661 mereka berhasil membunuh khalifah, Ali, di Kufah. Ini menjadi akhir kekhalifahan Rasyidin dan awal kekhalifahan Umayyah, yang dipimpin oleh Muawiyah.

Khawarij terus menjadi gangguan bagi Umayyah dan Abbasiyah kekhalifahan selama berabad-abad. Mereka tidak pernah datang untuk mengadakan pemberontakan di kota besar, tetapi berkeliaran di seluruh dunia Muslim, melecehkan dan meneror penduduk yang tidak menerima keyakinan mereka.

Di Afrika Utara, mereka berhasil mendapatkan dukungan dari kelompok berber. Tak kurang ada 20 sekte Khawarij dan setiap kelompoknya memilih imam dengan caranya sendiri-sendiri. Masing-masing menyatakan diri sebagai komunitas Muslim yang paling benar.

Kaum Khawarij juga dikenal dengan beberapa sebutan.  Mereka juga kerap disebut sebagai Al-Haruriyah. Nama itu adalah nisbat pada tempat kumpulnya para pendahulu mereka ketika berpisah dan memberontak terhadap Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, yakni Harura. (republika/pahamilah)