Senin, 15 September 2014

Masa Depan Israel ada pada Pelacuran?

Bendera Israel 

Pahamilah.com - Berhubungan intim dengan lelaki non Yahudi untuk mendapatkan uang adalah upaya wanita merekrut mereka untuk masuk Yahudi.

Bahkan mereka bisa menjadi penganut Yahudi ortodoks yang lebih baik, hingga pemimpin yang menjanjikan.

Sebuah lingkaran prostitusi di Israel selama bertahun – tahun meyakinkan perempuan bahwa masa depan Negara Israel tertumpu pada mereka yang berhubungan seks dengan lelaki non Yahudi, ungkap seorang polisi setempat.

Penyidikan polisi menemukan delapan pimpinannya disebut messianik yang dikultuskan.

Mereka dikecam masyarakat setempat karena mengajarkan wanita untuk melacurkan diri kepada lelaki non Yahudi dengan alasan, untuk menyelamatkan masyarakat Yahudi dan menebus dosa, sebagaimana dilaporkan Haaretz pekan lalu.

Sejumlah wanita yang direkrut dalam kondisi mabuk alkohol dan obat – obatan diberitahukan bahwa kondisi spiritual mereka bergantung pada usaha mereka menjual seks (layaknya pelacur, - red) kepada klien.

Polisi sudah menutup lingkaran prostitusi ini. Delapan tersangka ditahan, termasuk seorang penduduk Tepi Barat Israel yang dikategorikan penganut garis keras di Kompleks Bat Ayin, David Dvash (60).

Dia menyebut dirinya David yang terbaik, memiliki 15 anak dan beristri dua. Salah satunya adalah tersangka dalam kasus ini.

Pada mulanya polisi menyelidiki kasus ini sejak empat bulan lalu setelah kelompok ekstrimis bernama Lehava, menolak untuk menikah dengan lelaki dan wanita non Yahudi.

Kelompok tersebut sangat keras mengecam kelompok prostitusi tersebut, karena tidak setuju dengan pernikahan berbeda agama.

Lingkaran prostitusi ini sudah aktif sejak enam hingga tujuh tahun lalu. Lima wanita berhasil direkrut. Mereka berhasil merekrut klien warga Palestina di Tepi Barat dan juga klien lain dari Tel Aviv.

Polisi yang memimpin penyidikan kasus ini, Superintenden Arik Mordechai, memaparkan kepada Haaretz bahwa 15 wanita sudah direkrut. Beberapa diantara mereka berumur dibawah 18 tahun.

Mereka melayani kebutuhan seks klien dari Palestina di Tepi Barat dan pekerja asing di Tel Aviv. Pemimpin kelompok ini terbukti melakukan eksploitasi terhadap wanita.

Ini bukan satu – satunya lingkaran prostitusi yang tersangka anggap ‘sakral’ sehingga menghebohkan pemberitaan Israel.

Dalam kasus terpisah pengadilan Tel Aviv memvonis lelaki 64 tahun karena melakukan pemerkosaan, persetubuhan dengan saudara kandung, dan sejumlah kejahatan.

Lelaki ini menikahi 21 wanita dan dianugerahi 38 anak.

Mereka dinobatkan sebagai penyelamat, yang dalam ungkapan Ibrani disebut Goel.

Beberapa anak perempuannya adalah korban pemerkosaan lelaki tua itu.

Lelaki bernama Goel Ratzon ini sayangnya dianggap tidak bersalah dalam kasus perbudakan.

Padahal sejumlah wanita yang menjadi korbannya menyatakan mereka adalah bagian dari perbudakan lelaki ini.

Mereka memiliki tato nama lelaki ini di tubuh mereka.

Budaya prostitusi yang dianggap sakral sudah ada sejak zaman dahulu.

Prostitusi atau pelacuran dianggap sebagai melakukan dosa. Dalam ungkapan Ibrani disebut dengan znh  yang artinya melacurkan diri. Dalam perjanjian lama disebutkan hal ini sebagai dosa.

Encyclopedia of Religion menyebut aktifitas seksual seperti ini dianggap meninggalkan penyembahan kepada Yahweh (Tuhan dalam sebutan Yahudi, -red). Ini digambarkan sebagai dosa terburuk.

Lingkaran prostitusi seperti ini memang ada saja, namun tidak mudah ditemukan, karena mereka berkelompok dan melakukan pelacuran yang dianggap bagian dari peribadatan secara eksklusif.

Penulis naskah kuno Ibrani menyebutkan aktifitas pelacuran ini dilakukan oleh pelacur wanita yang disebut qedushah dan juga laki – laki atau qodesh.

Jejak pelacuran ini bahkan ditemukan di sekitar Kuil Yerusalem, yang kini menjadi bagian dari wilayah Israel. Ilmuwan mengungkapkan adanya jejak para nabi yang memerangi tradisi ini.

Tradisi ini berhasil diberantas  pada saat kehancuran Yerusalem, yaitu pada tahun 586 sebelum masehi. Pada saat itu, peradaban Babilonia mulai hancur.

Ilmuwan perjanjian lama, Walter Kornfeld, menyebutkan hilangnya tradisi ini menunjukkan munculnya institusi agama Yahudi dengan tradisi menyembah satu Tuhan.

Padahal ketika itu, aktifitas spiritual berupa peribadatan dengan berhubungan seks adalah hal esensial dalam ajaran – ajaran sejumlah kepercayaan, karena dianggap mampu mengeluarkan kekuatan kehidupan misterius yang termanifestasi dalam kehidupan sehari – hari. (republika/pahamilah)