Rabu, 01 Oktober 2014

Surat Terbuka Untuk Kepala Stasiun Manggarai


Pahamilah.com - Ketika surat-surat yang berada di dalam kotak saran sudah tak lagi di baca, sudah saatnya media yang menyadarkannya.

Fungsi dari adanya kotak saran itu adalah menampung semua keluh kesah dari sang pengguna, bukan hanya sebagai pajangan yang harus ada tapi tak berdaya guna.

——————————————
"Surat Terbuka Untuk Kepala Stasiun Manggarai"

Assalamu’alaykum pak/bu. Saya Reni Anggraeni. Mahasiswa. Muslimah. Pengguna setia commuter line. Manusia yang menghabiskan hampir 25 menit dari waktunya untuk mengantri agar bisa sholat maghrib di mushollah mini stasiun Manggarai.  Saya seorang commuter juga. Berdomisili di Depok namun kuliah di Jakarta.

Saya yang selalu mengikuti perubahan kondisi fisik dari stasiun Manggarai. Mulai dari tahun 2012 saya mulai menjadi anak kereta. Pada saat itu pedagang kaki lima masih diperbolehkan untuk menjajakan dagangannya di dalam stasiun, peron pada khususnya. Pendagang-pedagang di Peron itu menjual Aqua botol seharga Rp. 3.000,- sedangkan di Indomaret point (karena pada saat itu hanya ada Indomaret Point) pun menjual Aqua botol seharga Rp. 2.500,-

Kondisi mushollah pada saat itu hanya seukuran kamar anak kost berbiaya Rp. 300.000,- perbulan, dan itu pun dibagi dua antara laki-laki dan perempuannya serta di samping mushollah tersebut terdapat kamar mandi. Tidak layak sebenarnya jika bangunan itu dijadikan tempat sholat.

Setelah CEO PT. KAI yang bernama Jonan itu mengeluarkan kebijakan menggusur pedagang yang ada di stasiun hingga sapu bersih tanpa tanggungjawab. Stasiun Manggarai mulai berubah menjadi penampung mini market, seperti mushollahnya yang mini.

Beberapa bulan kemudian, Indomaret Point masih menjadi satu-satunya tumpuan untuk penumpang kereta membeli minum atau sekedar cemilan. Renovasi mulai terjadi di banyak sisi di stasiun Manggarai ini, dimulai dari pemindahan loket dan pintu masuk, kamar mandi hingga mushollah. Jujur, saya senang sekali ketika mendengar mushollah di stasiun Manggarai ini sedang direnovasi. Ekspektasi saya, mushollah di stasiun Manggarai akan di tingkat dua atau minimal lebih luas dan mempunyai tempat wudhu yang layak. Harapan tinggallah harapan, mushollah di stasiun Manggarai tetaplah mini.

Hingga akhirnya kini, stasiun Manggarai layaknya mall setelah Indomaret berdiri, kemudian menyusul Seven Eleven, Roti O, KFC, dan yang teranyar starbuck dan Q buble (maaf kalau tulisannya salah).

Pertanyaannya, bisakah pembangunan segala macam minimarket, tempat kopi atau apalah itu di stasiun Manggarai dihentikan? Apa gunanya ada Indomaret jika Sevel pun ada? Padahal sama-sama menjual minuman dan makanan ringan? Apa gunanya Roti O, dan starbuck ada jika sama-sama menjual kopi dan roti? Padahal kopi dan roti itu kita bisa dapatkan di Indomaret ataupun Sevel? Apa gunanya KFC ada jika Sevel ada? Padahal sama-sama menjual nasi dan ayam goreng?

Kenapa pengelola stasiun Manggarai tidak memperhatikan pemugaran mushollahnya? Tahu kah kawan, stasiun Manggarai selalu dikunjungi oleh ratusan bahkan ribuan orang setiap maghribnya, entah itu yang mau pulang ke arah Bogor, Bekasi, Tangerang, Jatinegara ataupun Jakarta Kota dll. Biasanya diantara ratusan bahkan ribuan manusia itu separuhnya akan menunaikan sholat maghrib di mushollah mini tersebut. Dan kondisi dari mushollah itu sungguh tidak layak. Kalau dihitung mushollah tersebut hanya bisa menampung 20 orang saja. Sisanya masih harus mengantri giliran dengan yang lain. Pernah suatu ketika bapak-bapak menunaikan sholat maghrib di teras mushollahnya, dengan kondisi kotor dan beralaskan koran. Dia berujar “Maghrib keburu abis neng, udah jam berapa ini.” Mungkin, tidak hanya bapak ini yang bernasib demikian. Masih banyak pengguna kereta yang lain yang bernasib sama.

Bagaimana ini pak/bu? Berulang kali saya memasukkan surat ke dalam kotak saran yang berisi meminta pemugaran mushollah kembali tapi tak pernah ada respon positif dari pengelola stasiun. Yang ada malah pembangunan mini market yang semakin merajalela. Padahal lebih banyak pegunjung mushollah daripada mini market tersebut.
Saran saya, hentikan pembangunan mini market yang berada di stasiun Manggarai. Jika bingung tidak ada lahan yang bisa dibangun kembali untuk membangun mushollah, saya menyarankan untuk membangun mushollah di tempat loket dan pintu masuk yang lama, lahan tersebut cukup luas daripada lahan mushollah mini yang sekarang.
Surat ini murni pendapat subjektif saya. Mohon maaf jika ada kata yang salah.
Salam Anker (Anak Kereta)!!!! (rainyrens.tumblr/pahamilah)