Jumat, 08 Mei 2015

Dan Mengapa Do'a Kita Tak Diijabah?

 Muslim Berdoa
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
 
SAHABAT, sungguh merupakan suatu penderitaan bathin apabila doa yang kita panjatkan ke hadirat Allah tidak di-ijabah. Hal ini di sebabkan akhlak dan perbuatan kita sendiri yang belum sesuai dengan keinginan-Nya. Jadi, sama sekali bukan karena Dia zalim kepada hamba-hambaNya. Maha Suci Allah dari perbuatan buruk seperti itu.

Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan permohonan hamba-hamba-Nya yang beriman. Jika tidak didunia ini, maka pasti di akhirat kelak kita akan mendapatkannya.

Rasulullah Saw pernah bersabda, bahwa di Yaumul Hisab nanti seorang mukmin akan mendapati dalam kitab catatan amalnya beberapa perbuatan baik yang tidak merasa diperbuatnya. Kemudian dirinya ditanya, kenalkah engkau terhadap perbuatanmu ini?. Aku tidak tahu dari mana datangnya amal ini, jawab si mukmin.

Maka diterangkan kepadanya, sesungguhnya ini adalah balasan dari doamu, yang engkau lakukan di dunia dulu. Dan ini karena dalam engkau berdoa kepada Allah, engkau ingat kepada-Nya serta mengakui keesaan-Nya, meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya, memberi seseorang apa yang pantas diperolehnya, tidak mengatakan bahwa daya dan upaya itu datang dari dirimu sendiri, dan membuang kebanggaan serta kesombongan. Semua itu adalah perbuatan baik dan memiliki balasan di sisi Allah Yang Maha Gagah lagi Maha Agung.

Oleh karena itu, Buya Hamka menulis dalam tafsir al-Azhar, bahwa munajat atau doa itu mempunyai beberapa adab yang mesti dijaga. Pertama, hendaklah ikhlas hati kepada-Nya semata-mata; langsung sama sekali tidak teringat kepada yang lain.

Kedua, yakin bahwa permohonan kita niscaya akan dikabulkan. Ketiga, menanam kepercayaan penuh bahwa bertawadlu atau berdoa itu merupakan taufik atau bimbingan dari Allah sendiri yang keuntungannya terutama ialah ber-taqarrub kepada-Nya.

Para ahli ilmu thariqat, kata Hamka menunjukkan pula pengalaman lain dalam bermunajat. Yakni, hendaklah terlebih dahulu ditanamkan marifat kepada Allah. Mengingat kelemahan kita dan kekuatan kita, kehinaan kita dan kemuliaan-Nya, kemiskinan kita dan kekayaan-Nya. Tahu dimana kita dan dimana Dia. Kita memohon dari bawah, sedangkan Dia memberi dari atas. Dia Tuhan, sedangkan kita hamba. Dia Khalik, sedangkan kita makhluk!.

Kemudian, hendaklah sesudah marifat tersebut, tumbuh dengan suburnya rasa cinta kepada-Nya. Cinta yang sangat mendalam, sehingga kepentingan diri sendiri tidak diingat lagi karena yang diingat hanya perintah dan larangan-Nya. Bahkan yang diingat hanya Allah semata! Bila mana cinta telah mendalam, maka apa saja yang diberikan oleh Dzat yang dicintai itu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka. Tidak diberi-Nya pun tidak apa-apa. Masya Allah!.

Pada tahap berikutnya, janganlah gelisah atau mengeluh jika yang diminta tidak lekas terkabul. Karena, yang demikian itu bisa jadi merupakan bukti bahwa marifat kita pada Allah belum ada. Atau, bila ternyata akhlak kita sudah mulia, amal kita pun sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh-Nya, maka sebenarnya Allah meng-ijabah doa kita justru dengan tidak mengijabahnya. Karena, perhitungannya Maha Sempurna dan Dia pun Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Hamka kemudian mengutip sebuah hadits (Atsaar), yang menceritakan seorang hamba Allah yang menadahkan tangannya memohon sesuatu. Setelah mendengar bunyi doanya, Allah berfirman kepada malaikat, Berikanlah apa yang diminta oleh hamba-Ku itu, tetapi jangan lekas-lekas diberikan. Karena, aku senang sekali mendengarkan doanya.

Lalu berdoa pula hamba yang lain. Maka, Allah pun berfirman kepad malaikat, Berikan lekas apa yang dimintanya biar dia segera pergi. Karena, aku tidak senang mendengarkan suaranya.

Sahabat, bisa jadi permohonan yang terakhir itu termasuk doa yang paling buruk. Sedangkan yang termasuk dalam kategori ini, menurut Hamka, yaitu jika Allah hanya dijadikan sebagai jembatan untuk menuju suatu keinginan. Bila keinginan itu telah tercapai, maka Allah pun di lupakan. Naudzu billahi min dzaalik!.

Lantas, bagaimana agar doa kita selalu diijabah oleh-Nya? Camkanlah sabda Rasulullah saw. berikut ini : Barang siapa yang ingin gembira bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya ketika dalam kesulitan, hendaklah ia memperbanyak doa tatkala dalam kelapangan. (H.R. Tirmidzi).

Mudah-mudahan Allah yang Maha Rahman menggolongkan kita menjadi orang-orang yang senantiasa bermarifat kepada-Nya. Amin. (inilah/pahamilah)