Kamis, 21 Mei 2015

MUI: Jika Umat Pecah Akibat Al-Quran Langgam Jawa, Berarti Madharatnya Besar

KH Cholil Ridwan

Pahamilah.com - Ketua Bidang Remaja dan Seni Budaya MUI Pusat, KH Cholil Ridwan mengkritisi pembacaan Al-Quran dengan lantunan langgam Jawa. Menurutnya, Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk bangsa tertentu.

Bacaan Al-Quran dengan langgam Jawa pada acara Isra Miraj di Istana Negara telah menimbulkan perdebatan di kalangan umat Islam Indonesia. Menurut Kyai Cholil, penggunaan langgam dalam bacaan Al-Quran harus dilihat manfaat dan madharatnya.

Beliau menambahkan, bagaimanapun juga dalam membaca Al-Quran harus sesuai dengan hukum bacaannya. “Selama tidak melanggar tajwid, tidak merusak mahraj, dan tidak merubah makna akibat bacaan itu, dengan gaya atau langgam apapun tidak ada masalah. Itu (pada dasarnya) boleh-boleh saja,” kata Kyai Cholil kepada Kiblat.net, Selasa (19/05).

Kendati demikian, pengasuh Pondok Pesantren Husnayain Jakarta ini menegaskan, penggunaan langgam dalam bacaan Al Quran juga harus dilihat dari sisi maslahat dan madharatnya. Jangan sampai hal itu justru menimbulkan madharat di kalangan umat Islam sendiri.

Dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara pada Sabtu (16/05), dikumandangkan bacaan Al Quran dengan langgam Jawa. Saat ini, video Muhammad Yasser Arafat yang saat itu membacakan Al Quran dengan langgam Jawa telah menyebar dan menimbulkan perdebatan di tengah-tengah umat Islam.

“Kalau misalnya umat jadi pecah, umat jadi geger, umat jadi heboh, jadi saling tuding dan sebagainya, itu kan madharatnya lebih besar,” imbuhnya.

Alumni Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu juga menyayangkan pembacaan Al Quran langgam Jawa di Istana Negara. Menurutnya hal itu berarti menasionalisasi satu budaya daerah tertentu saja.
“Budaya Jawa kan bukan budaya nasional, bukan budaya seluruh Indonesia,” pungkas Cholil. (kiblat/pahamilah)