Jumat, 08 Mei 2015

Siska Akhirnya Bersyahadat Setelah Dua Jam Berdialog

Ust Samsul Arifin Nababan

Pahamilah.com - TANGERANG SELATAN - Pada Ahad Malam (3/5), Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Indonesia kedatangan tamu. Dia adalah seorang yang berdarah Toraja-Manado, seorang perempuan, single parent yang berjuang untuk mendapatkan kebenaran dalam beragama.

Namanya ibu Siska. Ia datang bersama seorang teman kerjanya. Bersama mereka datang ke pesantren untuk menemui KH. Syamsul Arifin Nababan. Tidak lain dan tidak bukan, rasa ingin tahu dan keraguannya terhadap agama Kristen yang ia anutlah yang membawanya datang menemui beliau.

Alhamdulillah, kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh pak Kiai. Pembicaraan pun mulai berlangsung akrab. Berawal dari perkenalan hingga pembicaraan berat seputar agama. Singkat cerita, ibu Siska sebagai seorang yang berjuang untuk menemukan agama yang benar memberikan sebuah pertanyaan kepada pak Kiai. Ia bertanya,

“Pak Kiai, bagaimana cara kita untuk memahami sebuah agama yang benar?”, ucap bu Siska.
Mendengar pertanyaan yang sangat penting ini pak Kiai pun kemudian menjelaskan, “Untuk memahami sebuah agama, tidak bisa melihat dari jumlah penganutnya saja, perilaku penganutnya, atau subjektifitas seorang yang memberikan penilaian terhadapnya. Ia harus dipahami secara objektif berdasarkan sumber ajarannya, karena agama dapat dipelajari berdasarkan atas sumber ajarannya.”

Pak Kiai pun kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Saya akan memberikan penjelasan lebih mendalam lagi kepada ibu Siska. Bahwa semua ciptaan Tuhan yang ada di dunia ini pada hakikatnya adalah untuk manusia. Langit, bumi, laut, gunung dan benda-benda yang ada di langit dan bumi diperuntukkan bagi manusia."
"Manusia adalah makhluk yang sempurna. Manusia diberikan seperangkat panca indra yang sempurna yang tidak ada pada makhluk yang lain, bahkan malaikat sekalipun. Manusia diberikan akal, hati, dan hawa nafsu. Oleh sebab itu, ia menjadi makhluk yang dinamis, tidak seperti malaikat yang statis atau Iblis dan Jin yang menggoda manusia untuk berbuat kerusakan.”, kata pak Kiai.

Ibu Siska kemudian bertanya kepada pak Kiai. “Pak Kiai, tadi pak Kiai bilang kalau semua ciptaan yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini adalah untuk manusia, lalu mengapa manusia diciptakan, kemudian mengapa harus ada makhluk lain yang statis seperti malaikat serta iblis dan jin yang menggoda manusia?”, tanya ibu Siska.

“Baik, saya akan menjelaskan, namun saya akan membatasi penjelasan saya pada konteks manusia saja karena apabila kita membahas tentang makhluk yang lain, maka pembahasan ini akan melebar dan ibu Siska akan mengalami kesulitan dalam memahaminya.”, tutur pak Kiai.

“Tujuan manusia diciptakan di dunia ini tidak lain hanyalah untuk menyembah Tuhan. Akan tetapi manusia tidak dapat berinteraksi langsung dengan Tuhan dalam rangka tunduk dan menyembah-Nya. Lalu, bagaimana manusia berinteraksi dengan Tuhan, sementara Ia tidak menghendaki manusia langsung berinteraksi dengannya?

Sebab itu, dipilihlah manusia pilihan untuk menjelaskan kepada manusia yang lain tentang Tuhan.  Ia adalah nabi. Akan tetapi, nabi juga tidak dapat bertemu dengan Tuhan secara langsung, melainkan ada makhluk lain yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepadanya, yaitu malaikat. Malaikatlah yang kemudian berinteraksi dengan nabi secara langsung dan menjelaskan bahwa kamu, nabi, dipilih untuk menjelaskan kepada manusia tetang Tuhan.”, jelas pak Kiai.

“Lalu bagaimana setelah manusia pilihan itu ada, apakah manusia kemudian mengikuti apa yang manusia pilihan itu perintahkan dan itu yang dijadikan sumber ajaran beragama?”, tanya ibu Siska semakin kritis. Pak Kiai pun menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat tenang dan meyakinkan. “Begini ibu Siska, manusia pilihan tersebut diberikan petunjuk oleh Tuhan, mendapatkan bimbingan dan arahan langsung dari Tuhan, sehingga apa yang dia lakukan tidak bertentangan dengan perintah Tuhan.

Kemudian Tuhan membuat sebuah sistem yang disebut dengan agama. Karena Tuhan yang menciptakan manusia, maka diperlukan panduan yang langsung dibuat oleh Tuhan. Agama adalah memuat seperangkat peraturan yang termuat dalam kitab suci. Untuk menyampaikan panduan tersebut diutuslah malaikat untuk memberikan kitab suci kepada para nabi yang kemudian diajarkan kepada umat manusia.”, jelas pak Kiai.

 Dialog yang terjadi malam itu semakin menarik. Ibu Siska semakin memperdalam pertanyaan-pertanyaannya kepada beliau. “Jadi, hakikatnya, yang menjelaskan dan mengajari manusia sebenarnya siapa pak Kiai, apakah malaikat?”, tanya ibu Siska lagi.

“Yang menjelaskan semua yang ada di muka bumi hakikatnya adalah Tuhan, karena Ia yang menciptakan tentunya Ia Yang Maha Mengetahui dan Maha Pemberi Penjelasan. Ia yang memperkenalkan kepada manusia tentang seperangkat bagian dari tubuh manusia dan lainnya. Kalau tidak, bagaimana manusia tahu, jangankan Hari Kiamat, bahkan dibalik tembok ruangan tempat kita berdialog ini saja pun manusia tidak tahu. Tuhanlah yang mengajarkan kepada manusia (Adam) nama-nama yang ada di langit dan bumi. Manusia pada dasarnya adalah bodoh, tidak tahu apapun yang ada di dunia ini. Tuhanlah yang menjelaskan pengetahuan kepada manusia melalui kitab suci-Nya.”

“Bagaimana? Sudah bisa ditangkap penjelasan saya?”, tanya pak Kiai kepada ibu Siska.  Dengan wajah terpuaskan dengan penjelasan pak Kiai, ibu Siska pun menganggukkan kepada seraya berakata “Iya pak Kiai, saya sudah memahami penjelasan pak Kiai,” kata Siska.

Pak Kiai pun melanjutkan kembali penjelasannya, “Nah kalau begitu saya akan melanjutkannya. Apabila pengetahuan itu ada pada kitab suci,  dan manusia sudah memiliki sistematika yang baik dalam pemahaman, maka hal yang perlu dilakukan adalah menguji sumber ajarannya, yaitu kitab suci tersebut. Karena ibu Siska dari agama Kristen, yang kita uji adalah Al-Kitab (Bible). Apabila kita menguji Bible, maka akan terlihat bahwa sumber kitab suci tersebut bukanlah dari Tuhan, melainkan dari manusia karena ia memuat surat-surat kiriman Paulus," paparnya.

"Paulus adalah manusia, sehingga bagaimana mungkin manusia lebih mengatahui alam beserta isinya dari pada Tuhan. Bagaimana mungkin ciptaan lebih paham dari yang menciptakan. Oleh sebab itu, ia tidak suci karena manusia adalah makhluk yang dinamis yang memiliki hawa nafsu. Ini yang membutnya tidak suci, lebih lagi manusia cenderung melakukan kesalahan. Jelaslah sudah bahwa Al-Kitab tidak berasal dari Tuhan, melainkan dari manusia.”, kata pak Kiai dengan mimik wajah yang serius saat menjelaskan. Ibu Siska pun sesaat termangu mendengar penjelasan pak Kiai tentang Al-Kitab.

“Berbeda dengan Alquran. Ia memuat firman-firman Tuhan. Ini dibuktikan dengan banyaknya manusia yang menjadi penghafal Alquran, sedangkan tidak ada seorang pun yang berhasil menghafal Bible. Coba anda camkan baik-baik, di dunia ini ada ribuan bahkan munkin jutaan orang yang menjadi penghafal Alquran, sebaliknya ada tidak yang mampu menghafal Injil atau Al-Kitab ini?," paparnya lagi.

"Kalau saja ada seorang Kristen yang berani menantang dengan tantangan bila ada umat Muslim yang mampu menghafal Alquran dengan mempertaruhkan nyawanya, niscaya dalam detik itu juga ia akan kehilangan nyawanya karena begitu banyak orang-orang yang menjadi penghafal Al-Quran. Akan tetapi, mereka semua tidak akan berani. Tapi, saya berani mempertaruhkan nyawa saya, apabila ada satu orang saja di dunia ini, baik pendeta, pastor, professor, atau bahkan paus sekalipun yang mampu menghafal persis isi Al-Kitab, maka saya berani dipotong leher saya.”, ucap pak Kiai dengan suara tegas.

Suasana dialog yang serius pun tampak semakin hidup malam itu. Pak Kiai memberikan penjelasan lagi dengan mengutarakan pertanyaan, “Bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan yang datang belakangan daripada Adam. Mungkinkah Tuhan datang belakangan daripada makhluk-Nya? Bagiamana Tuhan tercipta, sedangkan Tuhan Maha Pencipta. Lalu, apa karya-karya Yesus? Tak seekor lalat pun yang mampu ia ciptakan.”, kata pak Kiai.

Penjelasan demi penjelasan pun dipahami dengan baik oleh ibu Siska. Tak terasa, sudah dua jam dialog antara ibu Siska dengan pak Kiai berjalan. Merasa penjelasan yang disampaikan oleh pak Kiai sangat logis, maka pada malam hari itu juga ibu Siska memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat.

Tepat pada pukul 21.00 WIB, disaksikan oleh rekan, para santri dan ustaz An-Naba Center, ibu Siska mengucapkan kalimat syahadat. Pada malam hari itu, ia pun resmi menyandang status sebagai seorang Muslimah. Sesaat setelah pensyahadatan, sembari meneteskan air mata karena rasa bahagianya telah memeluk Islam.

Ia pun berharap dapat menjalankan Islam secara kaffah serta mengajak dua orang putrinya yang masih remaja untuk sama-sama menjadi seorang muslimah yang berjuang untuk memperoleh ridha Allah. Semua yang hadir pada acara pensyahadatan tersebut pun mendoakan semoga harapan ibu Siska tersebut dapat segera terwujud, amin. (republika/pahamilah)