Rabu, 15 Mei 2013

Aku, diriku, pikiranku dan hatiku

"hei aku!!!" diriku memanggil dengan kerasnya, lalu aku menjawab "iya diriku, ada apa apa gerangan engkau berteriak seakan suaramu mampu memecah kesuanyian?"  lalu diriku berkata; "hei aku, lihatlah disana ada permata yang belum engkau angkat, bersediakah engkau mengambilkannya untukku?" akupun terdiam dan tertegun.

Diantara keraguan dan ketakutanku, kemudian aku berkata kepada diriku, "wahai diriku tunggu sebentar aku tidak mau terburu-buru, aku takut jika keindahan itu ternyata munafiq, aku tidak mau tertipu lagi, maka dari itu tunggulah barang sejenak aku akan berdiskusi dengan pikiranku"

Dengan keadaan sangat terpaksa aku terbang ke alam pikiran untuk menjumpai pikiranku yang pada kenyataannya dia telah tergantung diantara indahnya khayalan dan bayang-gayang kelam masa lalu, aku memandangnya begitu lama, saking lamanya serasa aku telah mematung selama seribu tahun di tepi penyesalan.

Tiba-tiba pikiranku menyapa "wahai aku kenapa engkau datang?" kemudian aku menjawab dengan terbata-bata "wahai pikiranku, tolong aku minta pendapatmu tentang permata yang indah itu, sebab diriku meminta untuk mengambilkannya" namun tak kusangka dan kuduga pikiranku malah cuek dan meninggalkan aku sambil berkata "pikir saja sendiri aku sudah bosan dengan kebohongan, sana pergi saja kepada hatiku, dia lebih tahu bagaimana makna kehidupan yang sebenarnya, sebab dia adalah sang perasa yang mampu merasakan sakitnya kepedihan dan nikmatnya penghianatan"

dengan gontai aku kemudian ingin sekali menjumpai perasaanku, namun di tengah perjalanan ada suara yang berkumandang "wahai aku ketahuilah, akankah kamu bersedia dihianati untuk yang selanjutnya sebagaimana penghiatan yang terjadi?" kemudian hatiku pun berkata lagi, "hati ini sudah engggan, bosan dengan rasa sakit, hati ini sudah tidak mau berkenalan dengan sang penghianat, apalagi dengan bidadari yang tersesat dineraka; ketahuilah, semua rasa sakit dan segala kepediahan bukan kamu yang menanggung, bukan pula sang pikiran, dan juga bukan pula dirimu, tidak juga kamu sebagai aku, namun akulah yang menanggungnya.. aku sebagai hatiku"....

Special dedicated to some one who was created Anok name,.