Rabu, 15 Mei 2013

Jemariku, aku mohon maaf

Jemariku, tak jarang engkau selalu ku paksa untuk segera menyelesaikan seluruh masalah yang senantiasa engkau hadapi, mulai dari ketikan yang belum rapi, narasi yang masih amburadul, bahkan lukisan yang belum tuntas dalam pola dan warnanya,

Jemariku, betapa banyak waktu yang telah engkau lalui disiang dan malammu yang tiada terperi, engkau juga hadir dan tetap setia  guna menyematkan janji ikatan hati sehidup semati atas nama Tuhan sebentuk cincin yang kini terbuang dan tersia-siakan.

Wahai jemariku, jangan sampai engkau menangis dan jangan pula engkau bersedih serta turut menanggung kesusahan, semua itu bukan kodratmu juga bukan tangung jawabmu, lagi pula Tuhan tidak menganugerahkan hati kepadamu untuk merasa dan akal untuk mengingat. andai Tuhan menganugerahkan itu semua, pasti engkaulah yang pertama kali bersedih dan bercucuran airmata.

Jemariku, permohonan maaf sebenarnya tidak pantas dan bahkan belum pantas aku ucapkan dihadapanmu, namun tiada tempat dan juga tiada cara lagi untuk mengungkapkannya, hanya dengan kata "maaf ... maaf", jemariku, aku mohon maaf,  engkau telah kukecewakan, sebab ikatan suci yang dulu pernah engkau pasang di jari manisnya kini telah disia-siakan, dihianati dan dicaci maki... "maaf"...



Ponorogo, 1 Syawal 1431 H