Minggu, 16 Februari 2014

Pesan Nafas Cinta Yang Terakhir

*Pesan Nafas Cinta Yang Terakhir


Apa kabar cintaku? Lama nian kita tak jumpa dan tiada pula bertegur sapa, aku yakin bukan karena kebencian diantara kita, aku pun yakin bukan karena apa - apa, tapi rutinitas kesibukan jua yang telah menjebak kita dalam hiruk pikuknya kehidupan dunia.

Untuk itu, ada satu hal yang ingin aku utarakan sebagai bahan renungan, bagaimana memikirkan indahnya malam pertama, tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata, bukan pula malam pertama bagai memasuki peraduan Adam dan Hawa, justru malam pertama ketika perkawinan kita dengan Sang Maut tiba, dimana malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara.

Hari itu, mempelai sangat dimanjakan, mandi pun harus dimandikan - seluruh badan pun terbuka, tak ada sehelai benang menutupi dan tiada sedikit pun rasa malu, seluruh anggota badan digosok dan dibersihkan, kotoran dari lubang hidung hingga anus dikeluarkan, bahkan lubang – lubang itu kemudian ditutup dengan kapas putih, Itulah sosok kita, Itulah jasad kita saat itu.

Setelah dimandikan, lalu dikenakan gaun cantik berwarna putih, kain itu sangat jarang orang memakainya, ber-merk sangat terkenal bernama Kafan.

Wewangian ditabur keatas baju kita, bagian kepala, badan, dan kaki diikatkan, tataplah... tataplah... itu rupa wajah kita di keranda pelaminan, lalu disiapkan pengantin bersanding sendirian.

Kemudian sang mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita dengan iringan langkah gontai seluruh keluarga serta rasa haru para handai taulan.

Lantunan syahdu yang bersyair adzan serta kalimah kudus, dimana akad nikahnya menggunakan bacaan talkin, berwalikan liang lahat dan saksi - saksinya adalah barisan nisan yang telah tiba duluan, dengan siraman air mawar sebagai pengantar akhir kerinduan.

Dan akhirnya... tibalah masa pengantin menunggu ditinggal sendirian untuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah dalam menjalani kehidupan.

Malam pertama bersama Sang Maha KEKASIH, ditemani rayap - rayap serta cacing tanah dalam kamar yang bertilamkan tanah, dan ketika tujuh langkah telah pergi, sang malaikat pun berkunjung hendak bertanya namun tidak tahu apakah memperoleh nikmat atau mendapat siksa kubur setelahnya, tiada sekali pun kita tahu dan tak seorang pun yang tahu, tapi anehnya kebanyakan kita manusia tak pernah galau ketakutan tentang nikmat atau siksa yang akan diterima, namun sayang kita manusia enggan untuk menitikkan air mata, seolah airmata itu merupakan barang berharga yang sangat mahal.

Dan apakah Dia Sang Maha Kekasih kelak menetapkan ke syurga atau melemparkan diri ini ke neraka? hanya Dia yang berkenan, tentunya kita manusia berharap menjadi ahli syurga, tapi, tapi, sudah pantaskah sikap perilaku dan perbuatan kita selama ini untuk disebut sebagai ahli syurga?

Cintaku, mohon maaf jika malam itu aku tak bisa menemanimu, bukan berarti tak setia bukan pula aku berkhianat, tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan, tapi percayalah aku pasti kan mendo'akanmu, sebab sungguh aku sangat menyayangimu, rasa sayangku padamu lebih dari apa yang engkau duga, dalam doaku semoga engkau menjadi ahli syurga. Amien

Cintaku, jika ini adalah bacaan terakhirmu maka renungkanlah dan apabila coretan ini adalah pesan terakhir dari kekasihmu maka ambil hikmahnya, tapi jika ini adalah salahku - maafkan aku, terlebih jika aku harus mendahuluimu, mohon ikhlas dan maafkan seluruh khilafku yang pasti pernah menyakiti atau mengecewakanmu.

Dan apabila goresan jiwaku ini ada manfaatnya, salinlah kedalam kertas putih, lalu engkau simpan sebagai bahan renungan, siapa tahu suatu saat engkau ingat kepadaku ketika aku berpindah ke alam lain, hanya satu pintaku padamu tolong do'akan aku agar khusnul khotimah menghadap kehadirat-NYA.

"Robbana dholamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin," Ya Tuhan kami telah menganiaya diri kami sendiri & jika Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami termasuk orang-orang yg merugi." {QS. Al A'raf : 23}



________________________________
*Diadaptasi dengan perubahan seperlunya oleh Andik Priyo Kunarbowo dari "Renungan Terakhir"  yang berjudul "Apa Kabar Cintaku" oleh kang Rahmat