Rabu, 30 Juli 2014

Fakta: Warga Yahudi Menentang Agresi Zionis


Dari berbagai laporan media perlawanan dan kesaksian beberapa orang Yahudi mantan penganut Zionisme, rata-rata warga Yahudi di wilayah pendudukan mulai menyadari kekeliruan rezim kolonial dan ideologinya yang kerap menindas rakyat Palestina dengan cara paling biadab sejak 1948. Bahkan beberapa di antaranya, seperti mantan serdadu zionis Gilad Atzmon, langsung meninggalkan "negara ilegal" itu.

Gejala ini makin terlihat selama agresi terbaru militer zionis ke Gaza yang telah berlangsung sepanjang beberapa pekan. Namun, semua itu enggan diliput kalangan jurnalis Barat yang memang terang-terangan memihak rezim zionis dan memprovokasi pembantaian warga Gaza.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Protes anti-perang besar-besaran besar yang digelar pada Sabtu malam (19/7) pekan lalu oleh ribuan warga Yahudi dan Palestina di seluruh wilayah pendudukan Palestina (terutama di Tel Aviv), namun media Barat arus utama menolak meliput aksi mereka:

2. Pada Kamis kemarin (24/7), di Manhattan, New York City, AS, warga Yahudi juga menggelar aksi menentang agresi zionis ke Jalur Gaza dengan mengusung slogan "Bukan Atas Nama Kami":

Not in Our Name: New Yorkers rally against Israeli war in Gaza in lower Manhattan.

3. Protes anti-perang juga diselenggarakan di kota-kota lain di seluruh dunia, seperti Paris, London, Canberra, dan lain-lain.

4. Banyak pula warga Yahudi yang menentang perlakuan "Israel" terhadap bangsa Palestina, yang dapat dibaca dalam tulisan berjudul


Israeli Soldiers’ Testimonies from the Occupied Territories 2000-2010 (Kesaksian Tentara Israel dari Wilayah Pendudukan 2000-2010"

Holocaust Survivors Criticize Israeli Policy Towards Palestinians (Korban Holocaust Mengritik Kebijakan "Israel" terhadap Palestina)

Banyak warga Yahudi yang taat beragama menentang Zionisme. Jadi, menentang kebijakan "Israel" tidak serta merta menjadikannya anti-Semit ... atau "membenci diri sendiri [Yahudi]".

Salut bagi warga Yahudi di wilayah pendudukan yang mulai berani menggelar demonstrasi anti-perang, terutama dikarenakan perbedaan pandangan di sana sangat memungkinkan mereka menjadi sasaran ancaman pembunuhan. (islamtimes/pahamilah)