Minggu, 06 Juli 2014

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag I

 (lantai tempat kutidur berbantalkan bekas sandaran kursi)


Ponorogo, Senin 31 Mei 2014 (4 Sya'ban 1435 Hijriah)


Tittle: DALAM MIMPI KU PUN BERMIMPI (Bag 1)
Sub: Wish You Were Here
 
Di atas lantai dingin tanpa alas kucoba untuk berbaring diantara panasnya udara membelai tubuh. sulit sekali tidur - pada dasarnya Insomnia sudah menjadi menu sehari-hari, namun tak berapa lama kantuk juga mulai menenangkan mata yang sedari tadi memperhatikan langit-langit, menyaksikan bayang-bayang sang sore menyeruak menerobos jendela, aku pun tertidur ...

Ketika jiwaku mulai tenang dalam ketentraman tiba-tiba menyeruak sebuah mimpi yang membuat diri ini kebingungan untuk mengartikannya, sebab waktu itu tidak satu pun kamus atau penerjemah untuk memandu mengeja sebuah pesan yang mustahil terdengar oleh kenyataan.

Dibalik tirai asap rokok kuterdiam dan tercenung, kucoba kembali mengingat satu demi satu pesan itu, kurenungkan untuk mengalirkan gumpalan dalam ingatan ini, kucoba untuk memahami walau hanya sebatas yang kubisa, namun hal itu tetap saja menjadi sebuah misteri, lebih mudah menonton misteri gunung merapi dibanding mengungkap misteri mimpi yang kualami. yach... sebuah kenyataan di alam bawah sadar yang sangat jauh berbeda ketika menginjak alam realita.

Dan hingga kini... semua itu tetap sebuah misteri, kemustahilan yang jelas imposible jika dikalkulasi dengan hitungan manusia, sebab sungguh tidak masuk diakal, semua semakin terasa kian meresahkan pikiran apalagi ditambah otak ini telah sangat pekat oleh timbunan urusan dunia..

Sebuah dialog panjang yang terlalu singkat bila diceritakan, dimana bahasanya sangat berbeda dengan bahasa biasa, rumit dan berliku dalam penafsiran maupun perasaan. hingga aku pun tak tahu harus menamainya dengan sebutan apa.

Ketika mencoba untuk mengungkapkannya lewat tulisan ini, sesekali dialog terjadi antara aku dan hamparan keyboard yang tersentuh ujung jemariku, kadang kasihan juga si jemari, sebab ketika hati memerintahkan "ini yang harus engkau tulis wahai jari", tapi saat segala sesuatu telah tertoreh dengan rapi, sang akal pun mengeluarkan jutaan hujatan, kritik sana maupun sini, entah dalam pola susunan kata maupun kurang bagusnya nada, bahkan tempat pemberhentian kalimat tak luput dari ejekannya. (Bersambung)




Footenote____________________________
Isi surat sebagaimana tersebut diatas tidak berubah, sesuai dengan aslinya, surat ini dikirim via email kepada Gridna Agreysia Widjaja



Adapun bagian I hingga IX dapat dilihat pada link dibawah ini;

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag I klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag II klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag III klik disini 

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IV klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag V klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VI klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VIII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IX klik disini