Minggu, 06 Juli 2014

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag II

  (lantai tempat kutidur berbantalkan bekas sandaran kursi)


 Ponorogo, Senin 01 Juni 2014 (3 Sya'ban 1435 Hijriah)


Tittle: DALAM MIMPI KU PUN BERMIMPI (Bag II)
Sub: Wish You Were Here


Hingga kini mimpi itu serasa menyiksa jiwa dan ragaku, seakan semua itu telah menyekap siang malamku dan menghimpit dada ini, ketika tersadar pun seluruh tubuhku seakan masih menahan sakit - lemas tiada daya, hanya kepasrahan ku kepada-NYA yang tersisa.

Jiwa ini terasa sangat merintih lalu hatiku menunduk begitu dalam - memohon kepada yang menciptakan aku, hatiku bersimpuh sangat lama di hadapan-NYA, hingga kadang tak terasa mataku terasa agak berair, namun segera kusembunyikan kembali dari manusia-manusia yang mungkin akan melihatnya.

Jika aku salah - aku mohon maaf; apabila semua hal yang tergambar jelas dalam pandangan hatiku menyinggung lembutnya hatimu mohon kiranya ada setetes embun keikhlasan yang engkau percikkan agar jiwaku merasa tentram atas maafmu padaku.

Dear Grey, jiwamu begitu lelah, itulah yang membuatku merintih merasakannya - bukan dalam kata bukan pula hanya sebuah lukisan huruf yang terbingkai oleh layar monitor tempat dimana engkau mampu untuk membacanya.

Ketahuilah, jiwa ini telah melayang jauh melintasi tiga sesuatu dimana mungkin dulu engkau pernah merasakan kepedihannya, aku kurang begitu tahu siapakah mereka, namun yang kurasakan bahwa mereka adalah dulu pernah memperdayaimu - hingga melemparkan perasaan mu ke jurang kesakitan yang terdalam. aku melihat tiga... iya tiga sosok yang mungkin bisa jadi telah mengisi kehidupanmu - disini mungkin aku salah, sebab bagimu semua itu hanyalah mimpi.

Dan ketika aku mencoba untuk bertanya jawab denganmu "wahai kamu yang selalu dirundung sesuatu yang tidak menentu dalam hatimu, apa sebenarnya yang kamu cari dalam kehidupan ini? " lalu engkau menjawab "aku mencari kesenangan dunia dan ketenangan batin"

"Mungkinkah kamu mencari kesenangan duniawi dan ketenangan batin secara bersamaan? apakah mungkin engkau menggenggam panasnya api disaat menginginkan sejuknya kehidupan nuranimu? mustahil Grey... gak mungkin.." kataku.

Setelah berkata seperti itu, aku melihat jauh kedalam diriku, siapakah aku ini? untuk apa aku peduli kepadanya? untuk apa? karena apa? aku sendiri tidak pernah tahu, namun yang kutahu bahwa segala sesuatu terjadi bukanlah sebuah kebetulan semata sebab segala hal tercipta dan diciptakan bukan tanpa alasan, sebab segala sesuatu yang ada di muka bumi ini telah terskenario rapi oleh sang Maha Pencipta Allah SWT. apakah mungkin sebuah film tanpa adanya skenario dan sang sutradara? (Bersambung)



Footenote____________________________
Isi surat sebagaimana tersebut diatas tidak berubah, sesuai dengan aslinya, surat ini dikirim via email kepada Gridna Agreysia Widjaja



Adapun bagian I hingga IX dapat dilihat pada link dibawah ini;

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag I klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag II klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag III klik disini 

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IV klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag V klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VI klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VIII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IX klik disini