Minggu, 06 Juli 2014

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag III

 (lantai tempat kutidur berbantalkan bekas sandaran kursi)



Ponorogo, Senin 02 Juni 2014 (4 Sya'ban 1435 Hijriah)


Tittle: DALAM MIMPI KU PUN BERMIMPI (Bag III)
Sub: Wish You Were Here


"Dear Grey, kenapa engkau terpaku dalam diam? aku mohon maaf jika lidahku melukai perasaanmu, namun sejujurnya maksud hati tidak ingin menyakitimu, maafkan diriku jika telah melelehkan air matamu"

Sejurus kemudian sambil duduk menunduk dengan melipat kaki engkau berkata "Aku dulu pernah mau menikah namun tidak jadi, dan tolong jangan sakiti aku lagi, jika memang mau benar-benar maka jujurlah, aku gak butuh kata-kata, aku gak menginginkan janji, namun bukti dan perbuatan, aku capek... aku capek... aku capek dengan kehidupanku sendiri, mau kemana arah hidupku ini?"

"Jujur bagaimana yang kamu inginkan?" kataku, "padahal aku sudah mencoba untuk bicara apa adanya tentangku walau hanya sekilas hingga kupersilahkan bertanya kepada siapa pun yang engkau mau. iya aku tahu bahwa kita belumlah mengenal antara satu sama lain, tapi setidaknya kuingatkan lagi bahwa pertemuan kita ini bukanlah kebetulan semata - semua ini kehendak Allah SWT"

 "Dear Grey, mengertilah, aku sangat berharap kamu menjadi orang yang lebih baik sebab kamu diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan baik tanpa kekurangan suatu apa pun, kamu cantik parasmu sangat elok - Nikmat dari Allah manakah yang kamu dustakan?, alangkah baiknya kamu tidak seperti ini terus, sadarilah keutamaan mu sebagai seorang wanita, ingatlah bahwa kamu kelak juga seorang ibu, sebab seorang ibu merupakan cermin utama dari anak-anaknya"

"Dear Grey, ketahuilah, dalam Islam wanita sangat mempunyai keutamaan, “Seseorang datang kepada Muhammad SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Muhammad SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Muhammad SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’"

"kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi Muhammad SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kamu mengerti dan semoga penjelasan singkat ini bisa dipahami, sedikit realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut, misalnya; Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya"

"Dear Grey, pahamilah, aku tidak hanya sekedar berkata, apa yang kutulis bukan berupa basa-basi sebagaimana mereka-mereka yang dulu pernah engkau jumpai, izinkan aku mencoba mengetuk hatimu dan mengajakmu melihat kebenaran yang sebenarnya, aku tidak akan menyuguhkan janji namun aku selalu berusaha untuk memberikan bukti yang belum pernah engkau jumpai dari mereka-meraka yang telah engkau kenal"

karena aku melihat tetesan airmatamu tambah mengalir deras, maka kuputuskan untuk memilih diam sesaat... (Bersambung)



Footenote____________________________
Isi surat sebagaimana tersebut diatas tidak berubah, sesuai dengan aslinya, surat ini dikirim via email kepada Gridna Agreysia Widjaja



Adapun bagian I hingga IX dapat dilihat pada link dibawah ini;

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag I klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag II klik disini

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag III klik disini 

Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IV klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag V klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VI klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag VIII klik disini 


Dalam Mimpiku pun Bermimpi Bag IX klik disini